Syariat, Tarekat dan Adat, Studi Etnografi Islam di Tatar Sunda

Budaya
Syariat, Tarekat dan Adat, Studi Etnografi Islam di Tatar Sunda

3 MB
ebook
44 Dilihat
Wishlist
Bagikan

Sinopsis

Islam adalah agama universal, bisa dilaksanakan kapan saja, di mana saja dan dalam keadaan apa saja. Ketika Islam hadir di padang pasir yang tandus wilayah timur tengah ia menjadi jalan bagi bangkitnya bangsa yang awalnya tidak diperhitungkan dalam sejarah umat manusia. Demikian pula ketika ia memasuki wilayah tropis, Islam menjalin harmoni dengan kebudayaan lokal yang ada di masyarakatnya. Pada saat Islam menjadi sebuah kekuatan politik pada sebuah negara, Islam adalah undang-undang komprehensif yang mengatur permasalahan negara dengan sempurna. Pun ketika Islam menjadi agama rakyat, ia menjelma menjadi praktekpraktek keagamaan tanpa melihat pada kekuasaan. Kehancuran Daulah Bani Abbasiyah di Baghdad berimplikasi kepada pola keagamaan masyarakat muslim yang kemudian larut ke dalam praktek-praktek Tasawuf. Tidak adanya akses kepada kekuasaan memaksa mereka untuk memfokuskan pada kajian-kajian Islam berbasis spiritual dengan praktek-praktek hidup zuhud terhadap dunia. Pola-pola tersebut mendapat legitimasi dari praktek hidup Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam dan para shahabatnya dalam kehidupan mereka. Nabi dan para shahabatnya yang memahami bagaimana hakikat kehidupan dunia sebagai senda-gurau dan permainan belaka. Adanya pengaruh dari kebudayaan Persia, India, Nusantara dan Sunda menjadikan pola-pola tasawuf tumbuh subur di wilayah-wilayah penyebarannya, khususnya di Asia dan Afrika. Selanjutnya bermunculanlah berbagai aliran tasawuf yang mewarnai dunia Islam, sebut saja Tarekat Syatariyah, Idrisiyah, Qadiriyah, Naqsabandiyah dan yang lainnya. Masing-masing aliran memiliki karakter tersendiri sebagai hasil pengalaman spiritual para penggagasnya. Kesamaan visi dan misi menjadikan beberapa tarekat melebur dalam satu bentuk tarekat baru yang dikembangkan oleh tokohnya. Salah satu aliran tarekat yang berkembang di Indonesia khususnya di Tatar Sunda (Jawa Barat) adalah Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah. Tarekat ini dikembangkan oleh Shahibul Wafa Tajul Arifin atau yang dikenal dengan Abah Anom di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, sebelumnya dikembangkan oleh Abah Sepuh yang berasal dari ulama Nusantara yaitu Ahmad Khatib As-Sambasi. Perjuangan panjang untuk menyebarkan tarekat ini telah Nampak dengan semakin berkembangnya tarekat ini. Tidak hanya di wilayah Jawa Barat namun juga di wilayah lainnya. Bahkan sudah menyebar ke Singapura dan Malaysia. Buku ini merupakan laporan penelitian etnografi mengenai Tradisi Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah di Pesantren Kajembaran Rahmaniyah Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia. Masih sedikitnya referensi mengenai tarekat ini menjadi alasan kuat bagi kami untuk menerbitkannya. Sifat dari buku ini yang merupakan laporan etnografi menjadi sisi kuat data dibandingkan dengan bukubuku lainnya.

Tags:
Keyword:
Penerbit
ISBN
978-602-280-543-4
Kategori
eISBN
978-623-209-236-5

Untuk membaca, silahkan unduh aplikasi di bawah ini:

playstore windows appstore macos macos-mx

Orang Lain Juga Membaca Buku Ini

Buku Lainnya dari Fasichul Lisan dkk

Selengkapnya

Buku Lainnya dari Penerbit Deepublish

Selengkapnya

Buku Lainnya dari Kategori Sosial

Selengkapnya

Buku Lainnya dari Sub Kategori Budaya

Selengkapnya

Buku Terbaru

Buku Terpopuler

Selengkapnya
Syariat, Tarekat dan Adat, Studi Etnografi Islam di Tatar Sunda

Syariat, Tarekat dan Adat, Studi Etnografi Islam di Tatar Sunda

Fasichul Lisan dkk

Preview
Hubungi Kami
cara-membaca-buku