Tiang Gantungan adalah kumpulan 69 puisi reflektif yang lahir dari pergulatan panjang dalam memandang manusia kehidupan kekuasaan iman pendidikan kematian dan aneka dinamika sosial yang mengitarinya Melalui bahasa yang sederhana lugas sekaligus sarat permenungan Agus Supriyanto mengajak pembaca memasuki ruang ruang sunyi tempat pertanyaan pertanyaan mendasar tentang hidup terus bergema Puisi puisi dalam buku ini tidak menawarkan jawaban jawaban pasti Sebaliknya setiap sajak menjadi undangan untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan lalu memandang kembali diri sendiri sesama dan dunia dengan mata yang lebih jernih Pertanyaan demi pertanyaan hadir bukan untuk membingungkan melainkan untuk membangunkan kesadaran bahwa kehidupan tidak selalu dapat dipahami secara hitam putih Di dalamnya pembaca akan menjumpai refleksi mengenai pendidikan kekuasaan korupsi uang bahasa kemiskinan solidaritas pengabdian konsistensi kepercayaan kemanusiaan kematian hingga relasi manusia dengan Tuhan Semua tema tersebut dirangkai dalam bentuk puisi pendek yang padat kontemplatif dan sering kali dibangun melalui paradoks ironi permainan makna serta pertanyaan pertanyaan filosofis yang menggugah Judul Tiang Gantungan sendiri menghadirkan metafora yang kuat Tiang gantungan bukan semata lambang hukuman atau kematian melainkan simbol ruang penghakiman tempat manusia berhadapan dengan dirinya sendiri dengan pilihan pilihannya dengan nuraninya dan pada akhirnya dengan Yang Mahatinggi Di hadapan tiang gantungan itulah topeng topeng kehidupan kehilangan daya sembunyinya Yang tersisa hanyalah manusia dengan segala kejujuran kelemahan ambisi kasih dan harapannya Dalam kumpulan ini Agus Supriyanto tidak menempatkan dirinya sebagai hakim yang mengadili dunia Ia lebih memilih menjadi seorang peziarah yang berjalan bersama pembacanya menyaksikan berbagai ironi zaman ketika pengabdian berubah menjadi bisnis kepercayaan berubah menjadi kecurigaan pendidikan kehilangan arah uang menjadi tuan bahasa kehilangan makna dan manusia perlahan terasing dari dirinya sendiri Namun di tengah segala kegelisahan itu puisi puisi ini tetap memelihara secercah harapan bahwa kebaikan kasih solidaritas dan kebenaran tidak pernah benar benar kehilangan jalannya
| Jumlah Halaman | 98 |
|---|---|
| Kategori | Umum |
| Penerbit | Penerbit Yedija Nusantara |
| Tahun Terbit | 2026 |
| ISBN | 978-634-7774-05-7 |
| eISBN | 978-634-7774-06-4 |