### Sinopsis Singkat Desauan sang bayu menenangkan keharmonisan pagi di musim panas yang baru saja merangkak dengan anggun. Suasana pagi di Kuil Kiyomizudera dihiasi oleh nyanyian burung, kepakan sayap kupu-kupu, nyanyi-nyanyian pucuk bambu, riuhnya kecipak ikan koi di kolam, dan gemerisik Air Mancur Otowa. Gadis cantik dengan wajah putih bagai pualam, berbalut yukata merah marun motif orchid dan sasakan rambut yang dihiasi konzashi, muncul di beranda kuil tepat ketika sang mentari berada di garis lurus bayangan. Gadis itu baru saja berdoa dan kini sedang berjalan menuju pohon bambu, tangan kanannya memegang kertas tanzaku yang sudah dipersiapkannya dari rumah. Di kertas itu, ia menuliskan harapan-harapannya untuk tahun mendatang. Isshiki mendesah dan duduk di kursi kayu, tangan membelai bandul kalung berupa bola kristal warna hijau zamrud dengan hiasan bintang warna keemasan di dalamnya. Dia mengamati kemolekan sepasang angsa putih yang sedang berkasih di kolam teratai. "Sudah waktunya," gumamnya lirih. "Apa mungkin dia akan kembali seperti janjinya?" Tiba-tiba, seorang laki-laki dewasa berwajah tampan dan penuh cerita muncul di hadapan Isshiki. Dialog dan adegan di sekitar Kuil Kiyomizudera terus berkembang, menyisipkan momen-momen romantis dan penuh makna, menggambarkan perjalanan spiritual dan emosional karakter utama dalam suasana yang tenang dan menarik.
Aku lebih memilih menjaga perasan sahabatku daripada menghancurkannya Aku harap kamu paham Maaf tapi aku memang tidak bisa untuk membalas perasaanmu Aku mengenalnay sudah sangat lama Aku tahu bagaimana perasaannya saat ini Tidak mungkin bagiku untuk menambah sedih hatinya Jujur aku sempat terpesona oleh perlakuanmu