Sinopsis singkat buku ini: Buku ini mengeksplorasi isu-isu terkait industri perfilman di Indonesia, terutama kisah dana pembinaan perfilman yang misterius. Pengarang menggali latar belakang dana tersebut, yang sejak 1968 telah terkumpul dalam jumlah signifikan, namun kini hanya tersisa sekitar 3 miliar rupiah. Penulis juga memaparkan perjalanan karier Sudwikatmono, pemilik Kelompok Subentra, yang pernah menjadi tokoh penting dalam industri ini tetapi sekarang tampak mengalami penurunan, bahkan menghindari wawancara. Buku ini juga membahas peringkat literasi Indonesia dalam skala internasional dan bagaimana pemerintah meresponsnya dengan berbagai program literasi, termasuk gerakan pengiriman buku gratis dan program gerakan literasi sekolah. Penulis menyoroti pentingnya perpindahan media bacaan dari tercetak ke digital, dengan fokus khusus pada penggunaan smartphone di Indonesia sebagai media utama. Buku ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan minat baca masyarakat, perlu disediakan konten digital yang dirancang khusus untuk perangkat mobile. Selain itu, buku ini juga membahas tentang hukum hak cipta dalam konteks digital, dengan menjelaskan berbagai jenis pelanggaran dan sanksinya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perlindungan hak cipta dalam era digital.
Dana Pembinaan Perfilman kini menjadi pasal tuding menuding antara praktisi film Dewan Film dan Departemen Penerangan Belum jelas nasib duit puluhan miliar rupiah yang kini cuma tersisa sekitar Rp 3 miliar Ke mana perginya setoran yang dikutip Deppen sejak 1 Januari 1968 itu
| Jumlah Halaman | 46 |
|---|---|
| Kategori | Umum |
| Penerbit | Tempo Publishing |
| Tahun Terbit | 2020 |
| ISBN | noisbn |
| eISBN | 978-623-339-252-5 |