KH Hasyim Asy’ari—kakek dari KH Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4 (1999-2001)—adalah salah seorang tokoh terbesar Islam Nusantara dan juga mahaguru para ulama dan kiai seluruh pesantren di Indonesia. Sumbangsih dan kiprah KH Hasyim Asy’ari sangat penting bagi gerakan Islam di Nusantara dan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Organisasi massa Islam yang didirikannya 1926, Nahdlatul Ulama (NU), membawa dampak dan memainkan peran sangat penting bagi corak Islam Nusantara dan kepentingan bangsa Indonesia. Di kalangan dunia pesantren dan para kiai, KH Hasyim Asy’ari dianugerahi gelar Hadlratus-syaikh, yang berarti Mahaguru. Kiranya, gelar ini dipandang tidak terlalu berlebihan, karena beliau adalah salah seorang inisiator berdirinya NU. Di samping itu, KH Hasyim Asy’ari juga dikenal sebagai seorang pemikir Islam dengan berbagai karya tulisnya dijadikan sebagai rujukan oleh para ulama terkemudian. Mengingat kiprah dan sumbangsih Hadlratus-syaikh KH Hasyim Asy’ari kepada bangsa dan negara Indonesia, sepak-terjang dan jejak-langkah berikut perjuangannya yang dituturkan dalam buku ini sangat layak diteladani dan dilanjutkan oleh generasi muda bangsa dan negara kita tercinta ini. Oleh pemerintah Indonesia, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Buku ini sangat penting untuk disimak kandungannya.
Buku Buku ini menggambarkan perjalanan spiritual dan keagamaan seorang ayah yang menjalani hidup berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang tulus dan murni, tanpa terpengaruh oleh struktur formal organisasi atau elit politik. Dalam buku ini, penulis menggambarkan bagaimana ayahnya bangun pagi, melaksanakan ibadah secara konsisten, dan mengajarkan nilai-nilai keagamaan kepada keluarganya. Ayah tersebut tidak hanya menjalani ibadah secara pribadi, tetapi juga menjadi contoh bagaimana Islam dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa perlu terlibat dalam dinamika politik atau organisasi formal. Penulis menekankan bahwa Islam bagi ayahnya bukan sekadar doktrin atau ritual, melainkan cara hidup yang menjadi bagian dari darah dagingnya. Ia menggambarkan bagaimana ayahnya tidak mengenal secara langsung tokoh-tokoh besar seperti KH Hasyim Asy’ari, tetapi ilmu dan amalan yang diterimanya berasal dari guru-guru yang berdakwah ke kampung-kampung di Kalimantan Barat. Ayah tersebut menjadi pemuka agama yang meneruskan ilmu dan amalan dari Sang Guru, meskipun tanpa mengenal sosoknya secara langsung. Buku ini juga menyajikan perbedaan antara paham tradisional yang dimotori oleh Nahdlatul Ulama dengan paham modern yang didukung oleh Muhammadiyah. Penulis menjelaskan bagaimana ayahnya tetap konsisten menjalani amalan sesuai ajaran gurunya, meskipun terjadi perbedaan pemahaman antara keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, buku ini tidak hanya menyajikan kisah seorang ayah, tetapi juga menggambarkan makna sejati dari Islam yang dijalani secara murni dan tanpa mengkhianati nilai-nilai dasarnya. Kesimpulan Buku ini adalah kisah keagamaan yang menceritakan bagaimana Islam dijalani secara tulus dan murni oleh seorang ayah, tanpa terpengaruh oleh struktur organisasi atau politik. Melalui cerita ini, penulis menyampaikan makna sejati Islam sebagai cara hidup, bukan sekadar ritual atau doktrin.
Unduh untuk perangkat lain:
Jadilah yang pertama memberikan ulasan!
Bukunya bagus banget!
Lorem ipsum dolor, sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquam nulla iusto repellat qui, soluta laborum deserunt quis veritatis reprehenderit sint assumenda natus officiis! Nesciunt nisi eius rem dolor placeat consectetur.
Isinya daging semua cuy! Recomended.