Sejak menemukan surat penjualan bayi itu, Ningsih semakin yakin, kalau ia anak tukon. Sudah berulangkali Ningsih menanyakan siapa ibu kandungnya pada bapak dan mamak, tapi semua diam. Hanya bulir air mata yang menggenang di sudut mata mamaknya sebagai jawabannya. Saudara bapak dan mamak pun tak satu ada yang mau berterus terang. Ningsih mencoba mengalah. Mencoba berdamai dengan kenyataan. Keinginannya mengetahui siapa ibu yang melahirkannya tak pernah padam. Namun, hati kecilnya berkata lain. "Untuk apa berusaha keras mencari ibu kandungku sedang kehadiranku di dunia ini tak pernah diharapkan? Kini, dari jendela kamarnya yang terbuka sore itu, Ningsih memandang deretan pohon karet di ujung sana. Perjalanan untuk menemukan jawaban atas teka-teki kehidupannya, membawa Ningsih sampai di sini. Di Kampung Baru Ranji, tempatnya dilahirkan. Esok pagi ia akan mulai mencarijawabannya.
Unduh untuk perangkat lain:
Jadilah yang pertama memberikan ulasan!
Bukunya bagus banget!
Lorem ipsum dolor, sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquam nulla iusto repellat qui, soluta laborum deserunt quis veritatis reprehenderit sint assumenda natus officiis! Nesciunt nisi eius rem dolor placeat consectetur.
Isinya daging semua cuy! Recomended.