JUST like Bulog and military foundations, there is strong evidence that the Bank Indonesia Employees Welfare Foundation (YKKBI) is just an excuse for senior officials to reap profits in an inappropriate manner. An audit by the Supreme Audit Agency shows that the more than Rp2 trillion funds ^ YKKBI has placed in a number of investments have been gobbled up by a variety of inefficiencies. Corrupt and collusive practices L that grow on fertile ground at the central bank offices in Kebon Sirih have made the fate of a number of its subsidiaries—ranging from a banknote paper factory to a potato plantationuncertain. It has been discovered that, in the money-laden projects that the foundation manages, the Kebon Sirih high officials turn out to possess massive mysterious shares
### Buku ini berfokus pada isu-isu literasi dan akses literatur di Indonesia. Mulai dari hukum hak cipta dan penyebaran e-book, hingga upaya-upaya pemerintah dan swasta untuk meningkatkan minat membaca masyarakat. Buku ini memaparkan bagaimana Bank Indonesia Employees Welfare Foundation (YKKBI) menjadi subjek diskusi, dengan klaim bahwa YKKBI hanyalah alasan palsu untuk mempertahankan kepentingan tertentu. Bagian lain membahas tentang dampak teknologi, khususnya smartphone, terhadap literasi. Indonesia memiliki jumlah pengguna smartphone yang tinggi, yang diperkirakan akan terus meningkat, sehingga membuka peluang baru untuk distribusi e-book dan meningkatkan akses literasi. Buku ini juga menyajikan beberapa program yang telah dilaksanakan, seperti kampanye literasi sekolah dan layanan pengiriman buku gratis, serta upaya-upaya lainnya untuk mempromosikan minat membaca di berbagai wilayah di Indonesia.
Unduh untuk perangkat lain: