Tiba-tiba lukisan menjadi komoditi yang laris manis justru pada saat ekonomi Indonesia sedang pingsan. Galeri dan balai lelang menggantikan hiruk-pikuk lantai bursa. Pialang saham pun ikut bermain. Pada saat yang sama, aktivitas pemalsuan lukisan terasa makin merebak, yang juga menjadi bisnis menggiurkan.
Buku ini berfokus pada fenomena literasi di dunia, khususnya di Indonesia. Dalam bab pertama, disinggung tentang hubungan antara tingkat literasi dengan kualitas pendidikan di negara-negara dengan peringkat pendidikan terbaik, dengan Finlandia sebagai contoh. Buku kemudian membahas berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan tokoh terkenal seperti Najwa Shihab melalui program Duta Baca Indonesia dan Gerakan Literasi Sekolah untuk meningkatkan minat baca dan literasi nasional. Pada bagian berikutnya, buku ini membahas pentingnya adaptasi konten bacaan untuk smartphone, di mana Pusat Data dan Analisa TEMPO berusaha menyediakan e-book yang didesain khusus untuk perangkat mobile. Bab ini juga menekankan pentingnya akses mudah terhadap bahan bacaan, yang sejalan dengan ketersediaan komputer dan telepon genggam. Bab terakhir membahas fenomena kenaikan harga seni lukis di Indonesia, mulai dari era ekonomi pingsan sampai munculnya praktik pemalsuan lukisan. Buku ini juga menyajikan undang-undang terkait hak cipta di Indonesia, termasuk pasal-pasal yang memerintahkan hukuman bagi pelaku pembajakan dan penjualan karya seni palsu.
Unduh untuk perangkat lain: