Berdasarkan data Badan Pangan Dunia (FAO), makanan yang dibuang masyarakat Indonesia mencapai 13 juta ton per tahun. Jumlah itu setara dengan 500 kali berat Monumen Nasional (Monas) dan bisa mengenyangkan 28 juta perut yang kelaparan. Berdasarkan data tersebut beberapa anak muda menggagas beberapa program untuk memanfaatkan limbah sisa makanan
### Buku "Pahlawan Sisa Makanan" mengajak pembaca untuk mengenal Naufal, seorang mahasiswa tingkat akhir Jurusan Teknik Industri Universitas Gadjah Mada yang dikenal dengan julukan "Bantar Gebang". Kebiasaannya menghabiskan makanan sisa teman makannya hingga tandas membuat Naufal berpikir mendalam tentang masalah makanan yang dibuang di masyarakat. Dari penelusuran di dunia maya, ia menemukan data yang memukau dari Badan Pangan Dunia (FAO) yang menyebutkan makanan yang dibuang masyarakat Indonesia mencapai 13 juta ton per tahun, setara dengan 500 kali berat Monumen Nasional (Monas) dan bisa mengenyangkan 28 juta perut yang kelaparan. Data ini menggugah Naufal untuk terus meneliti tentang masalah food waste di Indonesia. Dalam sinopsis ini, juga disinggung tentang upaya-upaya pemerintah dan organisasi dalam meningkatkan literasi dan minat baca di Indonesia. Meskipun literasi nasional masih perlu ditingkatkan, upaya-upaya positif seperti gerakan GiFood yang melakukan kampanye saat Food Waste Diet Week dan inisiatif penyediaan e-book yang desain khusus untuk smartphone menunjukkan semangat untuk membantu meningkatkan literasi dan minat baca di masyarakat. Buku ini tidak hanya membahas masalah food waste dan literasi, namun juga memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat dapat berkontribusi positif dalam upaya mengatasi masalah tersebut. Selain itu, buku ini juga mengingatkan tentang pentingnya hukum hak cipta dalam konteks penggunaan digital dan komersial. Pada akhirnya, "Pahlawan Sisa Makanan" mengajak pembaca untuk tidak hanya mengenali masalah, namun juga berperan aktif dalam mencari solusi untuk masalah food waste dan literasi di Indonesia.
Unduh untuk perangkat lain: