Mereka tak pernah bisa lepas dari musik rock tahun 1970-an. Tapi mereka menolak disebut mengalami puber berkepanjangan alias remaja abadi. Sebagian mengaku selalu mendapatkan rasa damai setiap kali mendengar musik itu. Ada juga yang menjadikannya sebagai sumber ilham. Beberapa orang bahkan memutuskan menonton Yes di Singapura setelah band rock progresif itu batal tampil di Jakarta. Apa pun, yang sebenarnya membuat mereka setia menyimak, mengobrolkan, serta mengikuti dan melacak perkembangannya sepanjang masa adalah karya dari sebuah zaman ketika kreativitas bermusik mencapai puncaknya.
Buku ini berfokus pada fenomena dan pengaruh musik rock pada masyarakat, terutama para penggemar classic rock. Mulai dari pengalaman pribadi, seperti mendengarkan musik Yes yang dianggap sebagai sumber damai dan ilham, hingga pementasan musik rock di Surabaya, Jawa Timur, yang menunjukkan kreativitas dalam berbagai aspek musik. Penulis juga memaparkan profil Gatot Widayanto, seorang wiraswasta yang menjadi penonton rock di Jakarta Selatan. Buku ini tidak hanya menggambarkan pengalaman pribadi, namun juga mencerminkan sejarah dan perkembangan musik rock di Indonesia. Selain itu, penulis membahas isu-isu terkait hak cipta dan penggunaan musik rock secara komersial, termasuk dampak penguasaan telepon pintar terhadap minat baca masyarakat dan potensi e-book sebagai bentuk digitalisasi bahan bacaan. Buku ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara musik rock, literasi, dan industri hukum hak cipta, sekaligus membangkitkan minat baca dan literasi nasional melalui konten yang ditujukan untuk smartphone. --- Nota Konten buku ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengalaman pribadi, sejarah dan perkembangan musik rock, hingga isu hukum hak cipta dan literasi digital.
Unduh untuk perangkat lain: