Sebuah resensi atau tinjauan biasanya dibuat untuk memperkenalkan sebuah buku baru kepada publik. Tinjauan dengan demikian akan mirip seperti iklan, terutama jika isinya serangkaian pujian. Tapi Catatan Pinggir tidak demikian. Ia lebih dari sekadar tinjauan. Buku yang Goenawan kutip Catatan Pinggir 13 xi CATATAN PINGGIR DAN KUTIPAN-KUTIPANNYA kenyataannya tidak selalu buku baru. Tak jarang, atau sering bahkan, buku yang lama. Esai ”Cebolang”, yang mengulas serat Centhini, dan ”Orasi”, yang mengingatkan pembaca akan Wedhatama, mungkin bisa menjadi contoh. Melalui esai-esai ini, Goenawan seperti hendak membangkitkan dan mengingatkan lagi khazanah tua, sebuah buku, atau tepatnya serat, yang ditulis hampir dua abad lalu. Atau siapa yang masih ingat Salah Asuhan Abdul Moeis, seperti yang ia tulis dalam esai ”Han”? Meski, menurut Goenawan, novel tahun 1920- an ini ”akan terasa kaku, alurnya alot, dan temanya tak terasa segar; tapi ia merekam sebuah suasana yang menyesakkan.” Apa yang dimaksud adalah kejamnya politik identitas yang ditancapkan kolonialisme dan jejaknya hingga kini. Dan pasti generasi sekarang tidak banyak yang tahu pernah ada buku Pak Bohong, terbitan Balai Pustaka tahun 1950-an, sebuah saduran terhadap karya Rudolph Erich Raspe yang terbit pada 1785. Tinjauannya pun bukan semata deskripsi apresiatif, tapi juga berisi pandangan yang sangat kritis. Esai ”Aletheia” adalah contoh yang kuat bagaimana Catatan Pinggir memperkenalkan pemikiran sejarawan Yuval Noval Harari dan bukunya yang tengah populer di jagat ini. Goenawan katakan Harari sebagai ”seorang positivis abad ke-18 yang dilahirkan kembali, dan terlambat” lantaran pemikiran tokoh ini seperti jelmaan belaka dari para pemikir positivisme yang meyakini sepenuhnya ilmu pengetahuan sebagai basis kebenaran.
### Catatan Pinggir, karya Goenawan Mohamad, merupakan kumpulan esai yang melambungkan ide-ide dan pemikiran mendalam melalui pengutipan luas dan beragam. Buku ini mencakup berbagai topik, dari fenomena sosial hingga filsafat, dengan cara yang unik dan menarik. Dengan gaya penulisan yang khas, Goenawan Mohamad menggunakan kutipan dari berbagai sumber, baik buku-buku lama hingga terbaru, baik dari Indonesia maupun mancanegara, untuk membangkitkan pemikiran dan mendongkrak keterlibatan pembaca. Esai-esaian dalam Catatan Pinggir tidak hanya memperkuat argumentasi Goenawan, tetapi juga menunjukkan orisinalitas dan kedalaman pemikirannya. Meskipun mengandung bahaya, seperti yang pernah ditegaskan oleh Goenawan, penggunaan kutipan dalam karya ini justru memberikan kekuatan dan kekalahan kepada ide-ide yang dikembangkannya. Catatan Pinggir adalah buku yang mengajak pembaca untuk terus berpikir dan merenung, memanfaatkan berbagai sumber informasi untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam.
Unduh untuk perangkat lain: