Dalam kehidupan rumah tangga atau pasangan kekasih, pertengkaran tidak bisa dielakkan. Ada saja yang membuat kesal, mulai soal keuangan, pengasuhan anak, cara bersikap, hingga seksualitas. Ketidakcocokan “cara” hidup suami dan istri kerap menimbulkan konflik, yang jika tidak segera diatasi, akan berdampak buruk pada kelanggengan hubungan itu. Benarkah bertengkar adalah wujud tidak sehatnya sebuah hubungan atau keluarga? Benarkah bertengkar adalah hal negatif yang selalu berpengaruh buruk? Apakah benar, sebuah hubungan atau rumah tangga yang di dalamnya terjadi pertengkaran akan berujung dengan kehancuran? Jawabannya, TIDAK!!! Bertengkar tidak selamanya berakibat negatif dan berujung pada kehancuran. Bertengkar sering kali mampu menjadi “energi” keharmonisan sebuah hubungan atau keluarga. Karenanya, rumah tangga yang tanpa pertengkaran adalah rumah tangga yang “tidak sehat” dan “dingin”. Buku ini menyajikan seni bertengkar yang positif untuk menambah mutu keharmonisan hubungan cinta atau rumah tangga. Di dalamnya, dibahas tuntas cara efektif mengelola pertengkaran yang terjadi di dalam rumah tangga agar tidak menjadi perusak, tapi justru memperindah hubungan. Maka, bertengkarlah dengan indah, karena melalui pertengkaran-pertengkaran yang terkelola dengan baik dan indah itu, akan tumbuh energi cinta yang lebih dahsyat lagi!
Berdasarkan konteks yang diberikan, sinopsis singkat buku "Bertengkarlah dengan Indah" oleh Naylil Moena dapat disajikan sebagai berikut --- Bertengkarlah dengan Indah Sebuah Jalan Menuju Keharmonisan Rumah Tangga Buku ini mengajak para pasangan untuk memahami bahwa pertengkaran bukanlah hal yang negatif yang harus dihindari, tetapi bisa menjadi proses yang membantu dalam menciptakan keharmonisan rumah tangga. Penulis, Naylil Moena, menjelaskan bahwa pertengkaran yang dielola dengan baik dapat menjadi momentum pertumbuhan dan pendewasaan bagi kedua belah pihak. Bab pertama membahas realitas kehidupan rumah tangga, termasuk tidak adanya pernikahan yang sempurna dan potensi pertengkaran yang sering terjadi. Bab kedua menggali lebih dalam tentang cara mengantisipasi pertengkaran, termasuk memahami bahwa bertengkar adalah cinta yang tulus. Bab ketiga menyajikan sumber-sumber pertengkaran dalam pernikahan, termasuk masalah keuangan, kesehatan, jarak, dan masalah peran. Penulis juga menekankan pentingnya pertemuan dan komunikasi yang baik dalam mengatasi pertengkaran. Bab terakhir membahas bagaimana memetik hikmah dari pertengkaran, seperti kemesraan seksual, saling memberi motivasi, dan implementasi new strategic plan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Buku ini mengajak para pasangan untuk bertengkar dengan bijak, sehingga pertengkaran dapat menjadi peluang untuk memperkuat ikatan dan menciptakan rumah tangga yang lebih harmonis. --- di atas disusun berdasarkan informasi yang tersedia dari konteks yang diberikan, tanpa menyimpang dari konteks yang ada.
Unduh untuk perangkat lain: