Hampir mustahil membayangkan bahwa puisi-puisi lahir dari ruang dan tempat yang kosong. Puisi adalah dunia yang dipindai, dan kemudian penyair menggeser, mengubah, merekayasa, lantas menampilkannya dalam semesta tekstual baru-kita menyebutnya: puisi. Setelah Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika mulai dibangun pada 2018 silam, Ilham Rabbani menuliskan puisi โJalan Simpang ke Selatanโ. Di antara gugus teks-teks lain dalam rupa berita, potret, rekaman suara, video, juga yang lainnya, karya Rabbani berupaya melihat realitas masyarakat-yang sedarah dengannya-di sisi selatan Pulau Lombok, dengan kacamata yang lebih kompleks: kondisi keterpinggiran, pengerukan gunung-gunung, penutupan akses, di balik euforia pariwisata, dan pertanyaan anak-anak pada masa depan.
Unduh untuk perangkat lain: