Dari sekian raja-raja di bumi nusantara ini, yang demikian legendaris kearifan dan kebijaksanaannya, keluasan ilmu dan keluhuran budinya, barangkali Airlanggalah yang layak men-dapat posisi itu! Seorang raja yang semasa lahirnya di Balidwipa ditandai oleh “sambutan alam” berupa meletusnya Gunung Kelud di Jawa Timur! Seorang raja yang semasa menikahnya dengan putri raja Medang, tidak diberi kesempatan berbulan madu indah karena munculnya penyerangan tiba-tiba dari kerajaan sekutu Sriwijaya hingga membuat kerajaan mertuanya hancur! Seorang raja yang semasa menikahnya harus hidup prihatin dalam hutan persembunyian selama bertahun-tahun menghindari kejaran prajurit-prajurit Kerajaan Wora-Wari! Seorang raja yang sebagian waktunya banyak dihabiskan untuk menimba ilmu kepada banyak guru, termasuk kepada pujangga tersohor, Mpu Kanwa! Dan, seorang raja yang ketika diberi kesempatan merebut kembali kerajaan mertuanya, yakni Medang Kamulan, hingga di-angkatnya beliau menjadi rajanya, menghabiskan waktunya untuk membangun kemakmuran negerinya dan kesejahteraan rakyatnya. Airlangga, ya, dialah raja besar di kerajaannya yang tidak begitu besar! *** Pembaca, novel ini menguak lebih jauh siapa sebenarnya raja besar itu yang oleh rakyatnya sendiri dianggap titisan Wisnu dan pantas mendapat gelar Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana atau dialah Sang Payung Dunia?! Dan, kenapa dia tidak ter-tarik untuk melakukan banyak ekspansi di saat Medang mampu me-lakukan hal tersebut? Sebuah novel sejarah yang sebaiknya Anda miliki! Dibahasakan dengan sangat baik, kaya data, dan melaju dalam alur yang sangat mengalir!
Dialah Raja Besar Tanpa Ekspansi Airlangga, Raja Legenda Dalam novel ini, kita diperkenalkan dengan Airlangga, raja besar dari kerajaan yang tak sebesar namanya, namun tak kalah megah di hati rakyat. Sebagai raja, Airlangga terkenal dengan kebijaksanaannya, pengaruhnya dalam sejarah, dan legenda yang mengitari kehidupannya. Airlangga lahir dengan sambutan alam yang mengerikan—meletusnya Gunung Kelud yang menyebabkan hujan abu yang menutupi pulau Bali. Meski kehidupan di istana tampak damai, realitas di luar istana menunjukkan kehidupan masyarakat yang sibuk dengan keagamaan dan kegiatan sehari-hari. Pada siang harinya, Airlangga menunggu kelahiran putranya di kamar persalinan yang tertutup rapat. Kamar yang berisi cahaya lampu sumbu menunjukkan betapa pentingnya peristiwa ini bagi kerajaan. Suasana hening di kamar ini mencerminkan ketegangan dan ketakutan yang dialami oleh sang raja dan permaisuri. Sebagai raja, Airlangga tidak hanya menghadapi tantangan dari alam yang kasar, namun juga dari raja-raja lain di Nusantara. Airlangga pernah menjadi korban serangan tiba-tiba dari Kerajaan Sriwijaya, dan bahkan harus menghabiskan waktu di hutan persembunyian setelah berantem dengan Kerajaan Wora-Wari. Meski begitu, Airlangga tetap fokus pada pembangunan dan kesejahteraan rakyatnya, tanpa banyak melakukan ekspansi. Ditutup dengan keunikan kehidupan sehari-hari di kerajaan, novel ini memberikan wawasan mendalam tentang kehidupan raja besar Airlangga, yang meski tidak besar dalam ukuran fisik, namun besar dalam hati rakyatnya.
Unduh untuk perangkat lain: