Brata terjaga oleh gemuruh yang menggila. Sampah seperti tsunami masuk dari arah selatan kota, melanda rumah, kantor, gedung, dan pengguna jalan raya. Tanggul dan bendungan yang dibangun dengan “kongkalingkong”, jebol tiba-tiba. Gemuruh air bah menggulung, jerit tangis membahana, menukik menikam bagai lolongan serigala. . . . . (Brata dan Sampah Kota). ***** . . . . udewo, kepala keluarga yang seharusnya melindunginya, semakin tak punya hati. Nyaris tiap malam, ia berjudi dan pulang mabuk. Dalam kondisi mabuk, lelaki paruh baya bertubuh kekar itu merasa sangat perkasa. Tadi malam, rumah berlantai tanah itu kembali jadi neraka. Sumino dipukulinya. Dua kali mak ditendangnya. (Jawara). Mampukah Brata bertahan? Bagaimana pula kelanjutan kisah pahit yang mendera Sumino dan Maknya? Temukan jawabannya dalam kumpulan pentigraf yang sarat pesan moral dan kritik sosial, Dari Brata Hingga Jawara ini.
Unduh untuk perangkat lain:
Jadilah yang pertama memberikan ulasan!
Bukunya bagus banget!
Lorem ipsum dolor, sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquam nulla iusto repellat qui, soluta laborum deserunt quis veritatis reprehenderit sint assumenda natus officiis! Nesciunt nisi eius rem dolor placeat consectetur.
Isinya daging semua cuy! Recomended.