Masyarakat pesisir selalu berusaha bersahabat dengan laut. Lebih tepatnya menaklukkan laut. Tapi, tak jarang laut tidak mau bersahabat dengan mereka. Lebih dari 80% masyarakat pesisir Pamekasan menjadi nelayan dengan mata pencaharian menangkap ikan, sehingga over fishing tak terelakkan. Bertahun-tahun mereka hidup mengadu nasib dengan melaut tanpa penghasilan pasti. Pada tahun 2008, mereka diperkenalkan dengan budidaya bulung. Dengan adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pamekasan saat itu, mereka merajut asa, berjibaku dalam kerja. Ditambah hadirnya Standar Operasional Prosedur (SOP), budidaya bulung yang dilakukan, bisa menjadi solusi alternatif penghasilan harian mereka. Bahkan, bulung menjadi
"Ketika Rumput Emas Tak Lagi Berkilau" --- Buku ini menggambarkan kehidupan masyarakat nelayan pesisir selatan Kabupaten Pamekasan, khususnya di Kecamatan Pademawu, yang telah mengalami tantangan berat dalam menjalani profesi perikanan tangkap. Mulai dari era 2000-an hingga 2007, penurunan penghasilan dan biaya operasional yang terus meningkat membuat keadaan semakin sulit. Masyarakat nelayan di pesisir Pamekasan berusaha mencari solusi dengan diperkenalkannya budidaya bulung atau rumput laut pada tahun 2001. Meskipun usaha ini sempat memberikan harapan, gagalnya teknologi budidaya yang berulang kali dicoba menunjukkan tantangan nyata yang dihadapi. Kisah ini juga menyoroti permasalahan lain yang dihadapi oleh nelayan, seperti persaingan dengan nelayan lain di Selat Madura, keterbatasan modal, serta dampak global warming yang mempengaruhi cuaca dan perairan. Buku ini berusaha mengilustrasikan perjalanan panjang masyarakat nelayan dalam berjuang melawan berbagai tantangan, dari harapan awal hingga kekecewaan yang ditimbulkan oleh gagalnya berbagai upaya. --- singkat ini mencerminkan gambaran umum tentang isu-isu utama yang dibahas dalam buku tersebut, tanpa menyertakan detail yang terlalu spesifik, sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
Unduh untuk perangkat lain: