Lembaran sejarah Indonesia tidak bisa terlepas dari peranan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Panglima Besar yang bersahaja ini telah menorehkan catatan dengan tinta emas dalam sejarah Indonesia. Saat usianya masih 31 tahun beliau sudah menjadi seorang jenderal. Beliaulah jenderal termuda dan panglima pertama yang dilahirkan bangsa Indonesia. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, beliau tetap memimpin perang gerilya melawan Belanda. Keteguhan dalam bersikap, kedisiplinan dalam bekerja, keikhlasan dalam berjuang, serta kesetiaan pada cita-cita bangsa dan negara melekat menjadi kepribadiannya. Kisah hidup Panglima Besar Jenderal Soedirman layak disimak karena mengandung pelajaran berharga bagi bangsa. Segala tutur kata, sikap, pendapat, dan keputusan politiknya dalam menyikapi revolusi perjuangan menggumpal menjadi mutiara hikmah yang tiada pernah berakhir. Beliaulah benteng sekaligus penjaga keutuhan negara dan bangsa Indonesia. Semangat dan pengorbanan beliau dalam berjuang senantiasa menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi segenap anak bangsa.
Buku ini mengisahkan perjalanan keluarga Karsid-Siyem yang sederhana namun penuh harapan. Karsid, seorang petani yang juga mandor tebu di pabrik gula, menikahi Siyem, seorang wanita yang berasal dari Desa Parakan Onje, Ajibarang. Mereka tinggal di desa Kalibagor di kaki Gunung Pasuruan, hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Meskipun begitu, mereka tetap taat beribadah dan berharap memiliki generasi penerus yang tangguh dan maju. Suatu hari, Siyem dikaruniai kehamilan. Namun, mereka menghadapi berbagai tantangan dalam proses persalinan, termasuk ketidakadaan dukun bayi dan bidan, serta biaya yang mahal. Akhirnya, mereka memilih untuk pergi ke rumah Raden Tjokrosunaryo di Bodaskarangjati, Rembang, Jawa Tengah, yang mempunyai istri bernama Tarsem, kakak perempuan Siyem. Perjalanan yang jaraknya sekitar 145 km dengan kaki dan menghadapi cuaca ekstrem, termasuk hujan dan panas, serta sungai yang deras, menjadi penggembleng yang berharga bagi mereka. Dalam perjalanan itu, Siyem berdoa semoga penderitaan ini dapat menjadi penggembleng diri bagi janin dalam kandungannya. ini menjelaskan bagaimana proses persalinan yang sulit menjadi simbol dari pertumbuhan dan perkembangan spiritual yang akan melekat pada anak yang akan lahir. --- *Keterangan ini merupakan rangkuman singkat dari bagian-bagian awal buku yang diberikan, dan didasarkan pada konteks yang diberikan.*
Unduh untuk perangkat lain: