Kupandangi wajah langit yang kelam Muram, diam seribu bahasa Seakan enggan menyapa dan bersahabat Berlalu tanpa pesan yang berarti ā¦. Kepergian seseorang yang selama ini menjadi panutan dan tulang punggung keluarga menyisakan kesedihan mendalam. Luka yang menganga tiga tahun yang lalu tidak mampu tertutup rapat. Setiap kali duduk menyendiri, bayangan itu hadir mengisi lamunan. Kenangan selama hidup bersama selalu terngiang dalam ingatan membangkitkan kerinduan yang luar biasa dan tak mampu terobati. Untaian doa siang dan malam dipanjatkan dengan harapan semoga Sang Pencipta memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. Bagi kami yang ditinggalkan akan diberikan kekuatan dalam menjalani kehidupan. Buku ini berisi ungkapan perasaan penulis yang mengolah kejadian nyata di sekitar yang terangkum dalam kumpulan puisi sederhana. Bacaan ini layak menemani suasana santai Anda agar lebih bermakna.
Unduh untuk perangkat lain:
Jadilah yang pertama memberikan ulasan!
Bukunya bagus banget!
Lorem ipsum dolor, sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquam nulla iusto repellat qui, soluta laborum deserunt quis veritatis reprehenderit sint assumenda natus officiis! Nesciunt nisi eius rem dolor placeat consectetur.
Isinya daging semua cuy! Recomended.