Di suatu bagian dalam Les Mots, Sartre menulis: “Meski tak terlihat di kegelapan,buku tetap berkilau demi dirinya sendiri. Di kemudian hari, akan kuberikan kepada karya-karyaku nada keras setajam sorotan cahaya itu, dan lebih nanti di kemudian hari, di tengah-tengah puing-puing perpustakaan, karya itu akan lebih lestari daripada manusia sendiri.” Nukilan dari Sartre agaknya sedikit banyak menjadi obsesi bagi semua penyair juga: kita ingin sajak-sajak kita bertahan lebih lama dari usia kita sendiri. Dengan kata lain, dengan menulis puisi, dengan mengguratkan—kadang secara susah payah, berpeluh dan sepi—baris demi baris sajak, kita ingin memberi harga pada hidup yang getas dan sementara. Tia Setiadi
### Buku Buku ini, yang berjudul "Situs Kesedihan," merupakan kumpulan sajak dari sepuluh penyair terpilih yang telah berhasil menghindari berbagai jebakan dalam karya sastra. Penulis utama, Toni Lesmana, menggariskan bahwa di platform mereka, "basabasi.co," hanya sedikit penyair yang dimuat lebih dari satu kali dalam setahun. Hal ini menunjukkan komitmen mereka untuk mempublikasikan sajak-sajak yang kreatif dan bereksplorasi. Lesmana menjelaskan beberapa kelemahan umum yang sering ditemukan dalam sajak-sajak yang tidak dimuat, termasuk klise, banjir emosi, jebakan abstraksi, hasrat menggurui, dan bermain-main dengan kata-kata tanpa kedalaman. Namun, buku ini menyoroti sepuluh penyair yang telah berhasil melampaui tantangan tersebut. 1. Ibe S. Palogai menampilkan narasi-narasi unik dalam sajaknya, seperti dalam keterpecahan identitas, parau, dan cemas. Sajak-sajaknya mengeksplorasi pencarian diri yang mustahil dan berlapis-lapis dalam zaman yang rumit. 2. Budhi Setyawan mengungkapkan pertautannya yang intim dengan Yogyakarta, memberikan jiwa pada jalanan, pohon-pohon, dan bunyi gamelan, sehingga sajaknya meresap ke dalam pengalaman pribadi dan pengamatan. 3. Weni Suryandari melalui meditasi musik Barat, seperti Mozart, Waltz, Beethoven, dan Vivaldi, membawa kita menghirup harum pinus, menyaksikan angsa, dan merasakan hamparan daun-daun maple. Puisi-puisinya hidup dari musik dan pada gilirannya menghidupkan musik itu juga. 4. Linus Suryadi AG dalam petualangannya kembali ke akar dan sumber di pantai Nepal, menyingkap kisah legenda tentang leluhur orang Madura. Percakapan antara Linus, Naipaul, dan Umar Kayam menambah warna pada narasi ini, menunjukkan kecemasan ibunda Linus terhadap kehidupan putranya yang tidak menentu. Buku ini tidak hanya kumpulan sajak, tetapi juga cerminan perjuangan para penyair dalam mencari suara mereka sendiri dan mengeksplorasi bahasa dengan kreativitas tinggi.
Unduh untuk perangkat lain: