“Aduh! Tolooong!" teriak Putri Nusa dan Putri Lembayung yang ikut terjerembab ke dalam lubang besar bekas perangkap harimau. Kelimanya terjatuh sekaligus ketika sedang mengejar kupu-kupu. Hanya Putri Aster dan Putri Melati yang selamat. Tujuh putri Tuan Sutan tersebut ditangkap gergasi, raksasa setinggi pohon kelapa. Badan gergasi besar, wajahnya menyeramkan. Giginya juga besar dan hitam. Pemangsa manusia itu hanya bercelana pendek dari kulit kayu. Mereka dibawa ke dalam hutan, akan dimasak dalam belanga yang apinya sudah menyala. Apakah ketujuh putri tersebut akhirnya disantap oleh gergasi, pemangsa manusia? Miliki buku dongeng dari suku di Lampung Utara yang tanahnya subur serta masyarakatnya bertanam lada dan kopi. Niscaya serasa menggenggam bahkan mendekap kampung halaman yang dicintai.
### Di utara Provinsi Lampung terdapat sebuah kampung bernama Tiuh Tulang Bawang, yang kini dikenal sebagai Desa Tulang Bawang Kecamatan Bunga Mayang. Kampung yang subur ini dikenal dengan kekayaannya dalam pertanian, terutama perkebunan lada dan kopi. Sastra rakyat Lampung Utara, khususnya cerita dari daerah Sungkay, diangkat dalam buku ini untuk mengenalkan budaya dan kearifan lokal kepada generasi muda. Buku "Raksasa dan Tujuh Putri" mencakup sepuluh cerita yang diambil dari tradisi oral, dihiasi dengan penjelasan tentang sejarah dan geografi Tiuh Tulang Bawang. Mulai dari pesta panen yang meriah, hingga perjumpaan yang mengharukan, setiap cerita memberikan wawasan tentang kehidupan sehari-hari penduduk daerah tersebut. Cerita-cerita ini juga menggambarkan peran penting kopi dan lada dalam budaya dan ekonomi daerah. Buku ini ditulis untuk memperkenalkan kebudayaan Lampung kepada generasi muda, dengan harapan bisa menjadi sarana literasi budaya yang menggugah rasa cinta terhadap identitas dan warisan budaya daerah. --- singkat ini dirancang untuk cover belakang buku, memberikan gambaran umum tentang isi dan tujuan buku "Raksasa dan Tujuh Putri".
Unduh untuk perangkat lain: