Raden Wiknyo Kenongo, ulama tersohor zaman dahulu di Desa Larangan, Tokol, Tlanakan, Pamekasan. Masyarakat sekitar memanggilnya dengan sebutan “Ke Moko”. Banyak masyarakat yang tidak tahu asal usul Ke Moko. Menurut cerita, sejak kecil dia senang memancing, kadang sampai sehari semalam. Ikan hasil memancing dibagikan kepada para santri dan tetangganya, Dia hanya senang mengumpulkan mata ikan dan disimpan di bumbung bambu. Buku ini menceritakan perjuangan Ke Moko dalam membantu putranya menyembuhkan Putri Raja Palembang. Dia menjamu rombongan Raja Palembang yang akan berkunjung ke rumahnya, sedangkan fasilitas tidak ada sama sekali. Di dalamnya juga terdapat cerita rakyat tentang terjadinya api tak kunjung padam berkat kesaktian dan kehebatan Ke Moko, serta cerita bagaimana Ke Moko membuat jalur yang bisa dilalui oleh kapal rombongan Raja Palembang menuju rumahnya, membuat api, dan menyediakan air untuk tamu kerajaan serta membuat istana megah di rumahnya. Buku ini layak dibaca oleh seluruh kalangan. Pembaca akan menemukan nilai-nilai moral kebajikan dan kebudayaan masyarakat Madura yang perlu dipelihara dan dilestarikan. Ceritanya sangat seru. Penasaran? Miliki segera buku cerita rakyat terjadinya api tak kunjung padam.
### Ke Moko (Api Tak Kunjung Padam) adalah cerita rakyat yang disusun oleh Mohamad Jailani Supyanto, S.Pd. Buku ini menceritakan perjalanan seorang ulama bernama Raden Wiknyo Kenongo, yang dikenal dengan sebutan "Ke Moko," dari Pamekasan ke Palembang. Di Palembang, Ke Moko belajar bersama putra mahkota kerajaan, dan karena ketekunannya serta kecerdasannya, ia dipuji oleh guru. Cerita ini menunjukkan bagaimana ilmu agama dan kanuragan yang dipelajari Ke Moko mempengaruhi kehidupan sehari-hari dan mentalitasnya. Buku ini juga mengandung nilai-nilai moral yang dapat dianut oleh pembaca, serta berfungsi sebagai upaya melestarikan budaya Madura melalui kisah rakyat yang mendidik.
Unduh untuk perangkat lain: