Marsia ditemukan mati terkapar di makam Syekh Jakfar Sadik di tepi Ngarai Kalajengking. Orang-orang menduga, kematian perempuan itu disebabkan oleh pertikaiannya dengan Fandrik. Mereka menjadi musuh bebuyutan setelah keluarga Marsia membatalkan perjodohan yang telah disepakati sejak perempuan itu masih bersemayam dalam rahim. Marsia lebih memilih menikah dengan orang yang dicintainya, Linggo. Lelaki itu adalah ahli waris tunggal juragan perahu kaya raya di Tanjung Mayang. Bagi keluarga Marsia, Linggo tampak lebih bermasa depan cerah ketimbang Fandrik. Selain pengangguran, Fandrik dibayang-bayangi masa silamnya yang kelam: ia dan keluarganya didesak melepaskan imannya untuk mencegah kerusuhan Syiah terjadi sebagaimana yang pernah pecah di Bukit Maronggi. Dengan melibatkan Linggo, Kiai Karrar, Ra Wazir, Madong si tukang cukur, dan Maeda yang terancam menjadi perawan tua, Rumah Jadah digerakkan oleh perselisihan abadi antara Marsia dengan Fandrik. Dari situlah konflik-konflik yang lain datang silih berganti: rumor ilmu hitam, kemandulan, intrik politik, makhluk jadi-jadian, hingga skandal hubungan terlarang. Pusaran masalah-masalah itu menyisakan kesunyian yang kekal.
### --- Di permukiman Syiah yang sunyi di lereng Bukit Maronggi, perempuan misterius bernama Marsia ditemukan mati di makam Syekh Jakfar Sadik. Menggantungkan doa dan doa, perempuan tersebut memohon perlindungan kepada Tuhan dari kejahatan dan nasib buruk. Suasana malam bulan mati menjadi gelap dan kacau, ketika orang-orang menyerbu permukiman Syiah dengan senjata dan api. Tidak adilnya pertemuan di antara orang-orang baik dan jahat terjadi, menghantam nyawa Marsia yang tak pernah dikehendaki. Dalam keheningan malam, suara "Demi Ahlul Bait!" menggema, mengingatkan bahwa pilihan telah dibuat. Darah dan jeritan berpadu membentuk lagu kekacauan, sementara di antara kegelapan, kebenaran dan kejahatan bertarung dalam perjalanan hidup. --- * oleh Royyan Julian*
Unduh untuk perangkat lain: