“Yang aku takutkan bukan kematian, melainkan bila dibunuh sepi.” *** Gadis, seorang perempuan kampung yang hidup dalam masyarakat matrilineal Minangkabau, Sumatra Barat.Sebagai anak perempuan satu-satunya, seharusnya kehidupan Gadis baik-baik saja.Tapi tidak.Ia justru harus menantang hidup yang sangat berat. Menjawab tantangan kehidupan akan takdirnya sebagai perempuan. Anak perempuan di Minangkabau seharusnya tinggal di rumah kaumnya.Namun, anak-anak perempuan Gadis memilih meninggalkan rumah.Mereka ingin menjadi manusia mandiri.Padahal,dalam keluarga batih, perempuan mengambil peran yang sangat strategis dan menentukan. Tinggal di kampung yang berbatasan dengan hiruk-pikuk kota di Sumatra Barat, Gadis hidup dalam gilingan perubahan zaman. Benarlah kata pepatah, “Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan.”
Buku ini mengisahkan pengalaman dan kisah-kisah tragis di kampung yang diterjang gempa bumi. Penulis, dengan perjalanan berhari-hari di medan bencana, berhasil mendapatkan banyak informasi dari warga setempat, termasuk laki-laki bernama Sanusi yang tetap bertahan di rumahnya meskipun tanaman di belakang rumahnya tumbuh subur. Penulis juga menyoroti pengalaman tragis seorang perempuan muda yang ditemukan bersama murid-muridnya di dalam reruntuhan gedung bimbingan belajar, serta kisah pahit dari seorang laki-laki yang ditinggalkan istrinya dan anak-anaknya. Penulis berkeliling kampung, melewati berbagai rute yang berbahaya, mencari warga yang masih bertahan dan mencatat kisah-kisah yang terjadi di bumi gempa tersebut. ini memberikan gambaran singkat tentang kesulitan dan ketahanan warga setempat, serta penderitaan yang dialami oleh mereka akibat bencana alam.
Unduh untuk perangkat lain: