Musim dingin, awal 1943. Pasukan Nazi Jerman terisolasi di Stalingrad, tanpa bahan makanan dan tanpa bala bantuan. Mereka menunggu saat-saat terakhirnya: ajal yang menjemput karena ganasnya musim dingin atau sergapan musuh yang mematikan. Para serdadu malang itu mengungkapkan perasaannya melalui goresan pena. Surat-Surat Terakhir dari Stalingrad memuat sesuatu yang sangat manusiawi: kerinduan akan har-hari damai, umpatan marah bagi Hitler yang terhormat, kerinduan mendalam pada kekasih dan keluarga. Dalam surat terakhirnya, orang akan bicara yang sebenarnya dalam detik-detik terakhir hidupnya. Orang akan mencari hakikat yang paling mendasar dari eksistensinya. Surat-surat ini memperlihatkan pada kita jiwa seoran serdadu perang dalam saat-saat terburuknya. Di samping kekelaman, ada juga suatu kebahagiaan yang amat sublim. Para penulisnya adalah orang Jerman, yang pada waktu itu adalah musuh kita. Tetapi siapa yang bisa membacanya dan menangisi mereka? Brigjen SLA. Marshal.
Unduh untuk perangkat lain:
Jadilah yang pertama memberikan ulasan!
Bukunya bagus banget!
Lorem ipsum dolor, sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquam nulla iusto repellat qui, soluta laborum deserunt quis veritatis reprehenderit sint assumenda natus officiis! Nesciunt nisi eius rem dolor placeat consectetur.
Isinya daging semua cuy! Recomended.