Harold Lamb adalah salah seorang penulis fiksi petualangan terbaik abad ke-20. — Robert Weinberg — Harold Lamb tahu cara menulis kisah-kisah petualangan sama seperti Michaelangelo yang tahu cara melukis. — S.M. Stirling — Novel ini mengisahkan petualangan seorang lelaki muda terpelajar bernama Omar Khayyam yang kelak menjadi sufi, filsuf, ahli matematika, ahli astronomi, dan penyair pengarang rubaiyat yang masyhur. Dengan kecerdasannya dalam matematika dan kecintaannya terhadap bintang-bintang, Omar mendapat jabatan bergengsi sebagai ahli perbintangan sang sultan, yang mengaguminya dan memberinya kekayaan yang melimpah. Namun ketika kekasihnya dipaksa oleh orang tua dan kerabatnya untuk menikah dengan seorang saudagar, dia menjadi sangat sedih dan memilih untuk bertualang mencari kekasihnya itu sehingga melupakan tugasnya sebagai ahli perbintangan sultan. Kesedihannya itu semakin menjadi-jadi ketika dia, setelah tanpa dinyana-nyana berhasil bertemu kembali dengan kekasihnya dan menikahinya, harus berpisah untuk selamanya saat sang belahan hati meninggal lantaran digerogoti penyakit. Bertahun-tahun digelayuti rasa sedih Omar suatu ketika jatuh hati kepada seorang perempuan muda. Budak jelita itu, yang dibelinya di sebuah pasar budak, membangkitkan kembali gairah hidupnya. Dia kian bergairah saat dia, dibantu rekan-rekannya sesama ilmuwan, berhasil membuat sistem penanggalan baru yang memantik rasa kagum sultan dan orang-orang sekaligus penolakan dari para tokoh yang terusik.
Berdasarkan konteks yang diberikan, sinopsis singkat buku "Omar Khayyam" oleh Harold Lamb dapat disajikan sebagai berikut --- Di kota tua Nishapur, di negeri Matahari Tahun 1609, berjalanlah sejarah melalui jalan penjual kitab. Yasmi, seorang gadis muda yang hidup di toko kitab ayahnya, memandang dunia melalui purdah putihnya. Di antara penjual kitab dan pembelajaran tingkat tinggi, Yasmi menjalani hari-hari sederhana dengan harapan yang mendalam. Seorang putra tuan tanah bernama Rahim Zadeh sering singgah di toko, memberi Yasmi sekeping uang kuningan yang ia gosok sampai tampak berkilau. Putra Ibrahim, yang pendiam dan kasar, selalu berjalan tergesa-gesa di belakangnya. Pada suatu malam, Yasmi ditempatkan di istana dekat sungai, bersama angsa-angsa putih, kain sutra, dan penunggang kuda yang mencintainya. Namun, kehidupan istana itu tetaplah jauh dari kebahagiaan. Dari toko ke istana, jalan penjual kitab menjadi ruang bagi Yasmi untuk berpikir dan berimajinasi. Dia mengamati kehidupan di sekitarnya, termasuk anak-anak muda yang sering melewati jalan tersebut, yang membawa cerita-cerita tentang kekuasaan dan kehidupan yang berbeda. --- di atas mencerminkan kehidupan Yasmi dan perjalanan mentalnya yang dialami di kota tua Nishapur, sambil menggambarkan peran jalan penjual kitab sebagai ruang imajinatif yang membawa Yasmi mengenal berbagai wajah kehidupan.
Unduh untuk perangkat lain: