Popo Gusnaldi bercita-cita menulis novel dengan latar sejarah negerinya. Pada saat itu, sebagian besar penduduk Negeri Fiktif Belaka tidak mengerti bahwa beberapa dekade sebelumnya pernah terjadi pembantaian besar-besaran terhadap seisi ibu kota Kalodora. Jalanan dipenuhi jasad. Orang-orang yang menjadi saksi memilih bungkam sekalipun di tahun-tahun berikutnya Raja sukses memajukan negeri. Para novelis saling berlomba mengabadikan potongan sejarah palsu melalui karya sastra. Sementara itu para dukun di kota bawah tanah sedang menunggu dan mempersiapkan sesuatu yang sangat besar. Sesuatu yang akan menggulingkan kekuasaan raja yang zalim. Sesuatu yang membawa sang pahlawan menerobos segala batas.
Negeri yang Dilanda Huru-Hara merupakan karya sastra yang begitu padu dan penuh teka-teki. Di sisi satu, novel ini dibalut dengan romansa yang tenang, sementara di sisi lain, ceritanya gaduh dan tampak kolosal. Adegan-adegan berlompatan memadu realis dengan surealis, menciptakan nuansa yang membingungkan sekaligus mengasyikkan. Buku ini menggambarkan sebuah negeri fiksi yang dilanda krisis, di mana raja memerlukan cerita-cerita palsu untuk menutupi kebenaran, sementara media massa mengemban tugas yang sama, memproduksi hoax dan berpropaganda. Penulis, Ken Hanggara, dengan cermat menggali konflik antara kebebasan berekspresi dan kekuasaan. Buku ini mencerminkan dunia yang kacau, dengan kejadian realis dan surealis yang berpadu dalam gaya penulisan yang memukau.
Unduh untuk perangkat lain: