Buku ini ditulis dalam perjalanan panjang, dengan beberapa stasi sebagai perhentian. Kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini bertumbuh seiring dengan berjalannya waktu yang terus bergerak.
### Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang menggambarkan berbagai pengalaman hidup dan refleksi sepanjang perjalanan penulis. Mulai dari pengalaman unik, seperti naik kereta api sebelum reformasi digitalisasi yang membangkitkan rasa nostalgia, hingga cerita yang mengajak pembaca untuk memahami makna dari menua dan senja sebagai simbol perjalanan hidup. Cerpen "Ironi Kartidjo" mengajukan sintesis bahwa ambisi bisa mengalahkan akal sehat. Meskipun utang sudah menumpuk, tokoh Kartidjo tetap bersikeras mencalonkan diri sebagai Kepala Desa, mencerminkan aspirasi dan ambisi yang sering kali mengalahkan kebijaksanaan. Menua Bersama Senja, cerpen yang menggambarkan siklus hidup manusia dari lahir hingga dewasa, mengajak pembaca untuk memahami bahwa menua adalah proses peziarahan yang menyenangkan. Senja, sebagai tanda berakhirnya terang, menjadi simbol perjalanan waktu yang berhenti sejenak sebelum mulai lagi. Pada tahun 2020, penulis mengalami keterjedaan yang cukup lama, sebelum akhirnya bernostalgia dan kembali menulis cerpen-cerpen ini. Cerpen "Televisi" mencerminkan sifat hakiki manusia sebagai makhluk penanya, dengan tokoh Dika yang berdiskusi tentang tak henti bertanya. Sementara itu, cerpen "Sketsa Pantai" menggambarkan sifat sosial dan interaksi antar manusia, dengan peristiwa yang terjadi di pantai. Kisah-kisah dalam buku ini merupakan jejak-jejak unik yang sayang untuk dilewatkan tanpa diabadikan. Mereka mengajak pembaca untuk memahami kebesaran Ilahi yang patut dimengerti dengan bijaksana, serta mengingatkan bahwa perlu waktu panjang untuk merangkai kisah dan menulisnya.
Unduh untuk perangkat lain: