Yang Tunggal, Yang Mutlak, atau Yang Maha Tinggi, adalah konsepsi-konsepsi teologis yang sudah sangat lazim bagi para penganut agama-agama monoteisme. Dalam catatan sejarah agama-agama dunia, konsepsi-konsepsi teologis tersebut sebenarnya telah berulang kali berbenturan dengan paganisme. Konsep Tuhan Yang Maha Tunggal sering kali berbenturan dengan politeisme. Konsepsi teologis Yang Mutlak berhadapan dengan henoteisme atau persepsi-persepsi yang parsial, temporal, dan kondisional dalam memahami hakikat Tuhan. Konsep Tuhan Yang Maha Tinggi juga sering kali dianggap tidak populer karena cenderung melangit atau jauh dari realitas kehidupan yang empiris. Prinsip-prinsip monoteisme yang bermuara pada objek sesembahan tunggal sering mengalami pasang-surut sebagai konsekuensi dari proses dialogis dalam ruang kebudayaan tertentu yang melibatkan akal-budi manusia. Konsepsi-konsepsi teologis monoteisme semacam itu merupakan buah dari gagasan abstrak yang, masih sangat sulit untuk diterjemahkan ke dalam realitas kehidupan sehari-hari. Setiap idealisme senantiasa membutuhkan realisasi. Setiap gagasan selalu membutuhkan perwujudan nyata. Tujuannya agar idealitas atau gagasan terasa lebih membumi dan memiliki arti. Dalam konteks teologis monoteisme, gagasan tentang Tuhan yang sangat ideal-abstrak membutuhkan "representasi" agar keberadaannya senantiasa hadir dalam realitas kehidupan sehari-hari.
### "Monoteisme Samawi Autentik" Buku "Monoteisme Samawi Autentik" oleh Mu'arif, yang diberi editornya Muhammad Ali Fakih, merupakan penjelajahan mendalam tentang asal-usul dan perkembangan monoteisme samawi, terutama melalui perjalanan Nabi Ibrahim As. dan pengaruhnya terhadap ajaran agama Yahudi, Nasrani, dan Islam. Buku ini dimulai dengan penjelasan tentang asal-usul monoteisme samawi, menggali bagaimana Nabi Ibrahim As. menggunakan akal-budi dan kepercayaannya untuk menemukan konsep Tuhan yang ideal. Penulis menekankan proses filosofis yang dialami Nabi Ibrahim As., termasuk bagaimana ia sempat mempertimbangkan objek-objek alam seperti Venus, Bulan, dan Matahari sebagai tuhan, sebelum akhirnya beralih ke konsep Tuhan yang satu dan tunggal. Penulis juga menjelaskan bagaimana Nabi Ibrahim As. mendapatkan bimbingan wahyu yang memantapkan keyakinannya. Pada bab selanjutnya, penulis membahas perjalanan Nabi Ibrahim As. melalui proses berliku-liku keimanan, termasuk guncangan yang dialaminya saat menghadapi cobaan hidup. Penulis merujuk pada teori Al-Ghazali untuk menjelaskan bahwa keimanan seseorang akan mengalami proses berliku-liku dalam mengarungi kehidupan. Buku ini juga membahas konsep monoteisme di berbagai budaya, termasuk pengertian "Dyaus Pitr" di Persia, ajaran Zoroastrianisme yang mengenal dualisme ketuhanan, dan ajaran monoteisme di Mesir yang mengenal "Aton". Penulis menekankan bahwa meskipun ada konsep monoteisme di berbagai budaya, hanya ajaran monoteisme samawi yang autentik dan menjadi panutan bagi agama-agama yang muncul setelahnya. Buku ini bertujuan untuk mengedukasi pembaca tentang pentingnya monoteisme samawi dalam sejarah keagamaan dan bagaimana proses pembentukan keimanan dalam alam mikro dan makrokosmis.
Unduh untuk perangkat lain: