“Ah, begini selamanya nasib kebenaran,”keluh Amat, “baru separuh dituturkan, para pendengar sudah kabur. Ya, bagaimana tidak terjadi kesesatan? Memburu kebenaran harusnya sampai kalimat yang terakhir!” —Virus, Putu Wijaya * Membaca cerpen-cerpen Putu Wijaya seperti menyelami bangsa Indonesia dan kemanusiaannya yang penuh masalah. Menariknya, permasalahan dan tragedi itu dituturkan dengan nada humor atau komedi yang membuat pembaca terhibur sekaligus terbawa suasana tragik. —Yetti A.KA
### Buku ini menggambarkan perjalanan seorang layangan yang putus talinya dan berlayar bebas di angkasa. Layangan ini berbicara dengan angin, menjelaskan bagaimana kehidupan di Indonesia pernah indah dan penuh warna, tetapi seiring berjalannya waktu, suasana hatinya berubah menjadi kecewa. Layangan ini merasakan keputusan untuk meninggalkan Indonesia karena merasa tidak puas dengan situasi yang dialami oleh rakyatnya. Dalam percakapannya, layangan ini juga menyoroti permasalahan yang ada di negara tersebut, seperti kekhianatan, konflik antar pemimpin, dan ketidakpuasan rakyat. Meskipun Indonesia masih memiliki banyak keindahan alam, masakan, bahasa, dan kebudayaan yang unik, situasi politik dan sosial sekarang membuat layangan tersebut merasa tidak nyaman. Sebelum akhirnya menemukan tempat baru, layangan ini bertanya pada angin tentang kebenaran situasi yang dihadapinya. Angin, yang diwakili sebagai wujud alam yang paling dasar, memberikan respons yang mendalam dan mengajak layangan untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Sebagai gantinya, angin menunjukkan sebuah bangunan terakota yang indah, yang menandakan adanya harapan untuk perubahan positif. ini mencerminkan perjalanan emosional dan reflektif layangan, yang pada akhirnya mengajak pembaca untuk mempertimbangkan perspektif yang lebih mendalam tentang kenyataan di Indonesia.
Unduh untuk perangkat lain: