Beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, komik sempat menjadi bahan perdebatan—kendati kala itu belum adakomik yang menyinggung sang penguasa. Komik pernah disejajarkan dengan bacaan lain yang dianggap cabul. Komik bahkan pernah dirazia oleh guru dan sekelompok pendemo yang menganggapnya“merusak dan meracuni pikiran” pembacanya. Komik memang bukan buku pengantar tidur atau dongeng. Perlu intuisi yang tajam untuk mencerna komik. Oleh karena itu, yang menjadi titik fokus dalam esai ini adalah pertumbuhan dan watak tokoh yang merespons masalah sekitarnya. Kepekaan tiap komikus tentu saja berbeda-beda pula. Namun mereka semua sama : suka bekerja keras dalam menciptakan karya. Kumpulan esai ini berasal dari karangan di pelbagai surat kabar, ceramah dan diskusi tentang komik.
Unduh untuk perangkat lain:
Jadilah yang pertama memberikan ulasan!
Bukunya bagus banget!
Lorem ipsum dolor, sit amet consectetur adipisicing elit. Aliquam nulla iusto repellat qui, soluta laborum deserunt quis veritatis reprehenderit sint assumenda natus officiis! Nesciunt nisi eius rem dolor placeat consectetur.
Isinya daging semua cuy! Recomended.