Anggapan bahwa ilmu terbatas hanya soal fikih, teologi, dan tafsir secara umum. Padahal, ilmu lebih luas dari itu semua. Terdapat klasifikasi-klasifikasi ilmu, perinciannya, tingkatan-tingkatan, hakikat-hakikatnya serta aspek eksternal dan aspek internalnya. Sudah menjadi hukum tradisi bahwa orang yang tidak mengetahui sesuatu pasti akan mengingkari sesuatu tersebut. Menurut Imam al-Ghazali, orang yang menganggap bahwa ilmu hanya sebatas fikih, teologi, dan tafsir secara umum, karena ia belum pernah merasakan minuman hakikat dan belum pernah mendaki ilmu laduni.
### Buku ini membahas keutamaan ilmu dan tingkat keilmuan dalam Islam, fokusnya terutama pada disiplin ilmu tauhid. Menurut Imam al-Ghazali, ilmu terkemuka adalah ilmu tauhid yang mengajarkan ilmu tawhid, disiplin ilmu yang paling penting dan sempurna. Ia menekankan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, dan bahkan menyarankan bepergian untuk mencari ilmu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. Menurut pendapatnya, ilmu laduni (sufistik) yang banyak digunakan oleh para elit sufi memiliki kekuatan dan kepastian tersendiri. Namun, penulis juga menekankan bahwa ilmu harus dijalaninya melalui proses belajar dan didaksi, sebagaimana yang ditegaskan oleh Nabi SAW dalam hadits yang diberitakan oleh sahabatnya. Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu, meskipun memiliki tingkatan yang berbeda, memiliki esensi yang mulia. Ia mencontohkan ilmu sihir, yang walaupun batil, tetap memiliki esensi yang mulia karena melawan kebodohan dan kegelapan. Buku ini juga menyelidiki konsep ilmu dalam Al-Quran, melalui ayat-ayat yang menegaskan bahwasanya Allah sendiri yang menegakkan keadilan. Penulis menjelaskan bahwa ilmu tauhid, yang dipegang oleh para nabi dan ulama, merupakan sumber ilmu yang paling murni dan berharga. ini menyoroti bahwa pengetahuan harus diperoleh melalui proses yang teliti dan tidak dapat dipandang sepele, sekalipun ilmu laduni memiliki keutamaan khusus.
Unduh untuk perangkat lain: