"Mereka saling mengamati. Di setiap tatapan mata. Lekuk hidung. Garis bibir. Lebat alis. Setiap embusan napas. Mereka mengamati satu sama lain. Seperti sepasang kekasih yang terpisah oleh jarak dan waktu, lalu bertemu di sebuah pulau terpencil, jauh dari kebisingan kota. Tempat segala perasaan kini bertemu. Pada mulanya membeku, lalu mencair. Mereka berbicara seperti gerak selembar daun yang gemulai, jatuh di luar rimbunan kata-kata." * Luka tidak pernah meminta untuk dilahirkan dalam keyakinan tertentu. Aqila tidak pernah berencana untuk jatuh hati pada Luka yang berbeda keyakinan dengannya. Mereka memang tidak punya kuasa atas apa yang terjadi di luar permintaan dan rencana mereka. Tapi mereka bisa memilih; mendobrak batas itu atau mengalah, dan menerima apa pun konsekuensi yang menyertainya.
### "Batas Sepasang Kekasih" Perempuan bernama Aqila merasa tidak biasa pada hari ini. Sikapnya yang biasanya cuek dan sinis tiba-tiba berubah, menunjukkan perasaan aneh dan menarik terhadap seorang laki-laki, Luka, yang merupakan teman kelasnya. Walaupun Aqila mencoba mengabaikan perasaan ini, desakan untuk mengakui keterpesonaannya semakin terasa. Peristiwa hari itu, dimana Aqila secara tidak sengaja menyampaikan ucapan selamat kepada Luka sebagai ketua Himanika yang baru, menjadi titik balik dalam perasaannya. Meski ia mencoba menutupi perasaan ini, desakan dalam dirinya semakin kuat, memaksa Aqila untuk menghadapinya. Sementara itu, Elma, teman baik Aqila, mencoba membantu Aqila mengatasi perasaan ini dengan berbagai cara. Namun, Aqila merasa bahwa perasaannya tidak akan sembuh hanya dengan segelas kopi hangat. Buku ini menggambarkan perjuangan Aqila dalam mengakui dan menghadapi perasaannya, serta bagaimana perasaan ini mempengaruhi hubungan teman-temannya. Melalui perjalanan emosional ini, Aqila belajar tentang dirinya sendiri, perasaan cinta, dan pentingnya mengakui perasaan yang muncul dalam diri.
Unduh untuk perangkat lain: