Menikmati naskah lakon menjadi keasyikan sendiri; kita diberi kesempatan mengembangkan imajinasi seluas-luasnya, untuk menyusun kemungkinan-kemungkian artistik di atas panggung, hingga seperti tengah menikmati pertunjukan teater dalam kepala. Hakim Sarmin Presiden Kita akan membawa pembaca pada pengalaman seperti itu. Apalagi Agus Noor menyajikan suasana kisah yang ganjil dengan ketangkasan dialog yang cerdas dan komikal. Ada dua kisah: “Hakim Sarmin” berlatar sebuah jaman yang dilanda wabah kegilaan dan semua hakim memilih masuk Rumah Sakit Jiwa. Kegilaan dimulai dari pikiran. Dan revolusi dimulai oleh mereka yang gila. Keadilan dan kegilaan sulit dibedakan. Lalu “Presiden Kita Tercinta”, revolusi yang menumbangkan seorang presiden. Dalam kekuasaan, jujur saja tidak cukup. Kita menikmati ketegangan sekaligus kekocakan. Agus Noor, menulis dan menyutradari banyak pementasan bersama Indonesia Kita. Mulai dari Laskar Dagelan, Nyonya-Nyonya Istana, Orde Omdo, Matinya Sang Maesto, Sinden Republik, dan puluhan kisah lainnya. Nahkah-naskah lakonnya juga dipentaskan oleh Teater Gandrik. Bila Anda tak sempat menikmati pertunjukan-pertunjukan Agus Noor, inilah kesempatan menikmatinya dalam buku.
Cover Belakang Buku "Paduan Suara Orang Gila" --- Buku ini menggambarkan pertunjukan teater yang unik berjudul "Paduan Suara Orang Gila." Prolog pertunjukan dimulai dengan Dokter Menawi Diparani, seorang dokter jiwa yang lelah dan terlihat berpenampilan biasa, mempersiapkan diri untuk memimpin paduan suara. Musik yang diputar bergaya orkestra klasik, mengabadikan suasana kenangan, membentuk atmosfer yang serius dan megah. Seiring berlangsungnya pertunjukan, Dokter Menawi Diparani berperan sebagai konduktor orkestra, mengubah suasana menjadi parodi yang kocak. Paduan suara terdiri dari aktor yang mengenakan seragam hitam, seperti toga hakim, dan mulai bernyanyi. Musik yang diputar berulang-ulang, menciptakan suasana yang serius sebelum berubah menjadi parodi yang menarik. Pada bagian akhir pertunjukan, terbuka selubung tabir kain di panggung, menampilkan papan tulis yang menandai berbagai episode dalam pertunjukan. Pertunjukan ini mencerminkan dinamika antara Dokter Menawi Diparani, Tuan Mangkane Laliyan, dan Bung Kusane Kabotan, dengan dokter tersebut terlihat lebih hangat dan perhatian terhadap Tuan Mangkane Laliyan dibandingkan dengan Bung Kusane Kabotan. --- Alasan ini dirancang untuk memberikan gambaran singkat tentang isi buku tanpa menambahkan detail yang tidak dijelaskan dalam konteks yang diberikan. ini mencakup elemen utama pertunjukan, peran utama, dan dinamika antar karakter, yang semuanya didasarkan pada informasi yang tersedia.
Unduh untuk perangkat lain: