Seorang ilmuwan berkata bahwa bumi tak bisa diselamatkan dari kehancuran. Kita tak dapat menghentikan kerusakannya; hanya bisa mengurangi kecepatan menuju momen apokaliptik itu. Peristiwa-peristiwa kerusakan alam oleh kegiatan (konsumsi) manusia inilah yang saya respons dalam sejumlah puisi. Puisi-puisi dalam buku ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu “Altar Bumi” dan “Altar Langit”. Puisi-puisi “Altar Bumi” menarasikan persoalan ekologi beserta segala asosiasinya. “Altar Bumi” mewacanakan isu-isu ekologi mulai dari yang bercorak narasi besar seperti fenomena efek rumah kaca hingga narasi kecil seperti dietary—yang bagi saya bersifat amat politis. Dalam puisi-puisi “Altar Bumi”, paling tidak saya menceritakan tiga hal. Pertama, kerusakan alam akibat aktivitas destruktif manusia. Kedua, penghormatan manusia kepada sesama anggota komunitas biotik. Ketiga, tubuh manusia sebagai raga alam. Hadirnya buku ini tidak dimaksudkan untuk menggurui pembaca. Saya tidak punya misi profetik apa pun. Buku ini lebih bernilai sebagai refleksi-refleksi atas fenomena ekologi yang semakin memprihatinkan. Royyan Julian
### Ini adalah kumpulan sajak yang mencerminkan perjalanan pribadi dan refleksi spiritual penulis, Royyan Julian, terhadap isu-isu ekologi dan keterkaitan antara kehidupan manusia dengan alam. Buku ini berisi dua bagian utama "Altar Bumi" dan "Altar Langit". "Altar Bumi" fokus pada narasi-narasi besar dan kecil seputar isu-isu ekologi, mulai dari fenomena global seperti efek rumah kaca hingga praktik sehari-hari seperti perilaku konsumsi yang berdampak pada lingkungan. Penulis mencoba menceritakan kerusakan alam yang diakibatkan oleh aktivitas destruktif manusia, penghormatan kepada sesama anggota komunitas biotik, dan cara tubuh manusia merupakan bagian dari alam. Saat membaca puisi-puisi ini, pembaca dapat merasakan visi distopis penulis terhadap masa depan Bumi, serta responsnya terhadap peristiwa-peristiwa kerusakan alam yang terjadi. "Altar Langit" merupakan tambahan terakhir yang ditambahkan sebelum penerbitan, berisi puisi hasil pembacaan ulang atas kisah-kisah dalam tradisi agama-agama Abrahamik. Meski tidak secara implisit menganggap Homo sapiens sebagai pusat diskursus, puisi-puisi ini mewacanakan kebertubuhan manusia dengan Bumi dan mengajak pembaca untuk merenungkan hubungan spiritual antara manusia dan alam. Buku ini bertujuan untuk mengajak pembaca menghargai dan merawat alam, sambil mempertanyakan peran manusia dalam menghadapi tantangan ekologi. Semoga puisi-puisi dalam buku ini dapat memberikan wawasan baru bagi pembaca dan mendorong mereka untuk bertindak berdasarkan kesadaran yang lebih mendalam.
Unduh untuk perangkat lain: