Apakah Kau Mencintaiku? “[Nilai] Peter Carey bagi Sydney sama seperti (James) Joyce bagi Dublin seorang maestro bahasa dan pendongeng yang lihai. Tak akan keliru bila Anda menganggap ia sebagai salah satu sosok hebat di puncak milenium ini.” —Thomas Keneally “Untuk mengatakan bahwa jenama pengisahan Carey terletak di antara eksperimen fabel era 1960-an dan ultra-realisme era 1980-an mungkin membantu [memahaminya], tapi tidak sepenuhnya tepat. Yang lebih akurat, ia membuka lahan sastrawinya sendiri, menggabungkan unsur-unsur absurdisme, humor gelap, satire sosial dan saga keluarga bergaya lama sebuah kenikmatan [membaca].” —Miami Herald “Dunia nyentrik ciptaan Carey mengingatkan pada lanskap seni pop Kurt Vonnegut dan Thomas Pynchon dalam hal kecairan komikalnya, ketaklukan mereka pada takdir yang kejam. Di sebalik prosa halusinogeniknya, ada tatapan tajam seorang pengarang satire—seorang pelawak metafisika. Kisah-kisahnya adalah tamsil yang sulit diduga deskripsinya yang berdaya sengat tetap segar dari satu kisah ke kisah yang lain.” —The Nation
### --- "Apakah Kau Mencintaiku?" Karya Peter Carey, diterjemahkan oleh David Setiawan, mengisahkan Alexander Finch, seorang kartunis yang memandang dirinya sebagai sosok yang gampang disukai. Alexander, yang dikenal dengan nama "Teddy" atau "Teddy Bear" di kalangan pembaca, berjuang dengan kegendutan tubuhnya di tengah-tengah situasi sosial yang kacau akibat revolusi. Revolusi tersebut menimbulkan pandangan baru bahwa menjadi gemuk adalah menjadi penindas dan rakus, menjejaskan status sosial orang-orang gendut, termasuk Alexander. Alexander Finch mengalami perubahan signifikan dalam pandangannya terhadap dirinya sendiri dan cara dunia memandangnya. Di sekolah, ia dipanggil "Cuddles," dan di koran, "Teddy" atau "Teddy Bear." Namun, kalaupun ia selalu menganggap keyakinannya ini sebagai sebentuk kesombongan, ia tetap merasa bahwa ia memiliki tampilan dan sosok yang gampang disukai. Perjalanan Alexander Finch tidaklah mudah. Di tengah-tengah kegelisahan akibat revolusi, ia bertemu Deidre, seorang wanita berbadan mungil, dan seketika ia merasa bahwa wanita itu adalah refleksi dirinya. Alexander Finch mengalami perubahan dalam cara memandang dirinya sendiri, dari seorang kartunis yang gembira dan polos menjadi tokoh yang bertentangan dengan norma baru yang ditetapkan oleh revolusi. --- ini mencerminkan dinamika sosial, perubahan pandangan diri, dan perjuangan Alexander Finch dalam konteks revolusi yang mengubah norma-norma sosial, khususnya terkait dengan kegemukan.
Unduh untuk perangkat lain: