Kekuatan puisi-puisi Eko Putra terlihat pada kemampuannya menyerap khazanah metafora lokal yang seringkali dipadukan dengan metafora-metafora yang berserakan di sekitarnya. Puisi-puisi Eko Putra pada akhirnya menjadi adonan yang sedap karena telah diracik dengan berbagai teknik perpuisian yang dikuasainya - Wayan Sunarta
### Buku "Musi yang Manis Kekasihku" oleh Eko Putra merupakan kumpulan sajak yang mencerminkan perjalanan dan pengalaman sehari-hari pengarang dengan alam, kehidupan, dan cinta. Buku ini dibagi menjadi beberapa sajak yang menggambarkan kehidupan di kota dan desa, perjalanan, dan rasa cinta yang ditanamkan pada generasi muda. Sajak-sajak ini diisi dengan metafora alam yang digunakan untuk menggambarkan perasaan dan kehidupan, serta mencerminkan kearifan lokal dan budaya Melayu. Pengarang menggali kenangan masa kecil, menggambarkan rasa rindu kepada kampung halaman, dan memaparkan perjuangan serta kebanggaan yang dialami oleh generasi muda. Sajak "Setelah Hujan di Taman Kota" menggambarkan perubahan suasana setelah hujan dan bagaimana lampu neon kota memancarkan harapan. Sajak "Etalase Sekayu di Perut Kita" memperlihatkan perjalanan hidup dan kehidupan di kota dan desa. Sajak "Musi yang Manis Kekasihku" sendiri menggambarkan cinta dan pengertian cinta yang diberikan kepada generasi muda melalui kisah-kisah dari masa kecil. Buku ini tidak hanya menjadi kumpulan sajak, tetapi juga jurnal perjalanan pengarang yang mencerminkan perubahan dan kearifan lokal dalam kehidupan modern.
Unduh untuk perangkat lain: