Ketika konflik bersenjata berkecamuk di Aceh, perempuan ini tidak gentar. Dia bekerja di antara desingan peluru di titik-titik rawan. Saat terjadi gempa dan tsunami Aceh, Hafnidar justru menghadapi cobaan yang lebih berat dan cukup mencekam. Saat itu dia melihat kengerian yang luar biasa. Di atas atap rumah ibundanya tempat dia bersama anak-anak, ibunda dan suaminya bertahan hidup, dia hanya bisa terdiam di antara lantunan suara azan anak keduanya, Luthfi. Peristiwa itu membuatnya terpukul hebat. Bak badai yang menerjang habis seluruh kehidupannya di dunia ini. Hafnidar sempat berpikir hari kiamat akan segera tiba. Baginya tidak perlu lagi mengurus urusan dunia.
HAFNIDAR - Perempuan Aceh Menerjang Badai Setelah tsunami menghantam Aceh pada tahun 2004, Hafnidar dan keluarganya harus berjuang mencari perlindungan di pengungsian. Rumah mereka hancur, dan mereka hanya tersisa tanpa harta. Namun, semangat untuk melanjutkan hidup tetap membaja. Hafnidar bekerja sebagai relawan kemanusiaan untuk Oxfam, sementara putrinya, Meutia, menjadi penerjemah para relawan asing. Kondisi kaum penyintas tsunami di pengungsian membangkitkan rasa kemanusiaan Hafnidar. Sepanjang 17 tahun pascatsunami, ia terus berjuang, meskipun hatinya sering gelebah akibat trauma. Kisahnya akhirnya tergambar dalam buku ini, ditulis oleh Maskur Abdullah, jurnalis senior dan berpengalaman, yang menggambarkan perjuangan Hafnidar dalam menghadapi kehidupan setelah bencana. --- singkat ini dirancang untuk cover belakang buku, memberikan gambaran singkat tentang kehidupan dan perjuangan Hafnidar serta putrinya, Meutia, dalam menghadapi dampak tsunami di Aceh.
Unduh untuk perangkat lain: