Pangu tertidur pada sebuah telur besar. Saat memecahkan telur itu, keluar gas yang membentuk langit dan bumi. Pangu menahan keduanya agar tidak bersatu. Setelah beberapa lama, kekuatannya habis. Beberapa peninggalan Pangu kemudian menjelma menjadi alam yang indah beserta perkakas-perkakas yang membantu hidup manusia.
Pangu membelah langit dan bumi / Jin Bo ; penerjemah, Vania Josica Chendawan ; editor, Adeline Bangun, Erlangga Greschinov. -- Jakarta Kesaint Blanc, 2018. 32 hlm. ; 21 cm. Buku ini mengisahkan mitos Tiongkok tentang asal-usul langit dan bumi. Pada awalnya, dunia berupa "telur besar" yang berisi gas. Pangu, raksasa mitologis, merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk membelah telur tersebut dengan kapak yang ia pegang. Dengan sekuat tenaga, ia mengayunkan kapak dan menghasilkan suara yang keras, "telur besar" terbuka dan gas-gas keluar. Sebagian gas naik menjadi langit, sementara yang lainnya turun menjadi bumi. Pangu terus membelah "telur besar" hingga ia terbagi menjadi langit dan bumi. Setelah langit dan bumi terpisah, Pangu terus menjaga kedua elemen tersebut agar tidak kembali menyatu. Setiap hari, tubuh Pangu bertambah tinggi, mengakibatkan langit naik dan bumi menebal. Setelah lama berdiri di antara langit dan bumi, Pangu akhirnya menjadi raksasa yang sangat kuat. Setelah Pangu tiada, bagian tubuh dan dagingnya menjadi bagian alam semesta. Mata kirinya menjadi matahari, mata kanannya menjadi bulan, rambutnya menjadi bintang, dan dagingnya menjadi lahan subur. Tulangnya menjadi bunga dan pohon, giginya menjadi alat, dan keringatnya menjadi hujan. Napasnya menjadi angin dan awan, menciptakan pemandangan indah di bumi. Buku ini menggambarkan proses pembentukan alam semesta dan peranan Pangu sebagai sang pencipta.
Unduh untuk perangkat lain: