Membicarakan mengenai ketidakadilan di dalam ruang pendidikan berarti menempatkan diri dalam sebuah tepian atau margin. Marginalitas merupakan hidup dan berpikir dalam sebuah tepian. Dengan menempatkan diri pda tepian, seseorang akan mempertanyakan kehidupan normatif yang biasanya terjadi. Secara normatif, sekolah dipahami sebagai sebuah ruang bertemu yang penuh harapan dan impian. Pada kenyataannya, yang terjadi tidak melulu sedemikian muluknya. Sebagai ruang yang hingga hari ini menjanjikan, sekolah juga dimaknai secara berbeda oleh orang-orang yang sempat dan pernah hidup di dalamnya. Pemaknaan terjadi ketika seseorang berhasil menepikan dirinya dan kembali melihat pengalamannya dengan teliti.
singkat buku "Sayup Sunyi Suara Kata Yang Hilang dalam Ruang Kelas" berfokus pada pemahaman diri melalui berbagai cara, termasuk perbandingan dengan orang lain, pengamatan budaya, dan interpretasi pengalaman. Buku ini menggali aspek-aspek penting dalam memahami "diri" dan meningkatkan kepekaan terhadap dunia sekitar. Melalui latar ruang pendidikan, pengalaman tidak menyenangkan yang pernah dihadapi diangkat untuk membuka peluang pembentukan perspective taking dan empati. Konsep ini diusung untuk mendorong pemahaman bahwa pengalaman ketidakadilan dapat berfungsi sebagai pelajaran yang dapat diambil untuk bertindak dengan lebih bijaksana dan peduli terhadap orang lain. Buku ini merupakan hasil dari pelatihan yang berfokus pada adaptasi, sensitivitas, dan empati, dengan kontributor utamanya merupakan mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.
Unduh untuk perangkat lain: