nta, Fatimatu Az-Zahra. Buku ini ditulis berkenaan dengan rententan buku saya yang ada sebelumnya. Buku kedua saya yang berjudul “Malam 29 Ramadhan adalah Lailatul Qadar”, dan buku ketiga saya yang berjudul “Ishaq yang Dikorbankan Bukan Ismail”, telah mengajak saya untuk memahami peristiwa yang terjadi pada bulan Rajab.
### "PUASA ASYURA’ DI BULAN RAJAB BUKAN DI BULAN MUHARRAM" Buku ini mengungkap penelitian mendalam tentang asal-usul puasa Asyura’ dan menantang konsep umum yang telah lama diterima oleh umat Islam. Menurut penulis, Mohammad Mubarok, puasa Asyura’ yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram sebenarnya adalah kesalahan historis yang disebabkan oleh campur tangan Dinasti Umayyah pada masa lalu. Penulis menunjukkan bahwa berdasarkan Kitab Taurat, puasa Asyura’ seharusnya dilaksanakan pada bulan Rajab, bukan bulan Muharram. Hal ini didasarkan pada pernyataan Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa dia lebih berhak menunaikan puasa Asyura’ karena sistem kalender yang dia pegang adalah sistem kalender lunar yang sudah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Buku ini juga menyelidiki sejarah dan implikasi dari perubahan ini, termasuk dampaknya pada peringatan kematian al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW, yang menjadi pusat perayaan di Muharram. Penulis menegaskan bahwa pemahaman baru ini bukan hanya sekadar teori, tetapi merupakan fakta yang perlu diketahui oleh umat Islam. ini mencerminkan penelitian mendalam dan analisis kritis yang dilakukan penulis dalam memahami perbedaan antara puasa Asyura’ dalam Islam dan Yahudi, serta implikasinya dalam konteks historis dan keagamaan.
Unduh untuk perangkat lain: