“Oke, kamu boleh saja bilang kalau Seruni anak perempuanmu. Tapi, jangan coba-coba meminta Abimanyu menikahinya,” ucap Bu Kades. Cinta memang indah. Namun, untuk menggapainya tidak mudah. Banyak onak dan duri. Begitulah cinta antara Seruni dan Abimanyu. Cinta yang tumbuh, tak pernah mereka tahu kapan mulainya itu selalu menghadapi rintangan. Berteman sejak kecil, menjaga lingkungan adalah awal mula kisah yang begitu indah. Waktu telah mengukir takdir. Perjalanan cinta tidak semulus yang diharapkan. Kasus perjodohan, penculikan, hingga kisah masa lalu orang tua, membayangi kehancuran. Demikian juga dengan kerusakan lingkungan, menjadi sumber konflik yang tak kunjung selesai. Di tengah konflik yang bertubi-tubi, bisakah Seruni menggapai cita dan cintanya? Kisah romantik yang penuh perjuangan dan air mata ini terangkai dengan diksi-diksi indah, menyajikan kenikmatan tersendiri dalam Elegi di Kaki Bukit.
Elegi di Kaki Bukit --- Di kaki bukit yang sepi, serunilah mengalami malam yang tak terlupakan. Di antara derap motornya, Seruni dan Abimanyu berbagi ketakutan dan keberanian. Ketegangan mencapai puncak ketika tiga orang pria dengan perangkap mengancam mereka. Dalam keheningan, mereka bersembunyi di balik rerumputan, menahan napas sambil mengamati wajah-wajah penuh ancaman. Namun, keheningan itu segera terputus ketika Abimanyu menghentikan motor dan mengecek luka pada Seruni. Luka bekas sabetan cemeti memar memar di lengannya, perih dan panas. Sinopsi buku ini mengajak pembaca untuk memaknai setiap peristiwa antarepisode yang saling terkait, dari awal hingga akhir. Melalui setiap imajinasi dan perenungan, pengarang menciptakan ranah fiksi yang mencerminkan fenomena sosial dan kehidupan sehari-hari. Novel ini menggambarkan kisah romansa yang penuh liku dan emosi, namun juga menyentuh isu serius tentang kerusakan lingkungan yang sering menjadi awal dari tragedi. Di kaki bukit yang sepi, Seruni dan Abimanyu mengalami malam yang tak terlupakan. Mereka berbagi ketakutan dan keberanian, bersembunyi dari ancaman tiga orang pria dengan perangkap. Melalui setiap peristiwa antarepisode, novel ini mengajak pembaca untuk memaknai kisah romansa yang penuh liku dan emosi, serta isu serius tentang kerusakan lingkungan.
Unduh untuk perangkat lain: