Erase

Novel
Erase

0 MB
ebook
166 Dilihat
Penerbit
Skylar
ISBN
noisbn
Kategori
eISBN
proses
Wishlist
Bagikan

Sinopsis

Aroma harum jasmine memenuhi ruang kerja Devi di kawasan perkantoran wilayah Jakarta Selatan. Membuat rileks otot-otot kaku sepanjang perjalanan melelahkan tadi.Devi, seorang majikan yang sangat santun. Tidak pernah lupa mengucap kata

Generated by AI ✨

Deskripsi Buku

### Ciiiittt! Bruk! Motor kembali berhenti mendadak, lebih kencang dari sebelumnya. Posisi duduk Devi sudah tidak karuan. "Ouch! Hati-hati dong, Mas! Dari tadi ngerem mendadak terus," tegur Devi sambil mengusap hidungnya yang menabrak punggung driver. "Maaf, Mbak. Tadi tiba-tiba ada kucing. Kalau saya nggak ngerem, bisa ketabrak," jawab driver. "HAH! Mana kucingnya?" Kepala Devi mendadak pening, matanya bergerak panik mencari bayangan kucing. Bulu kuduknya meremang, tubuh Devi menegang, bersiaga bila memang ada kucing yang hendak mendekatinya. "Sudah lari tadi, Mbak. Kita lanjut, ya?" "Er… eh, iya lanjut, Mas." Mata Devi tetap bergerak nyalang, bolak-balik menoleh ke belakang, memastikan tidak ada seekor kucing pun membuntutinya. Motor kembali melaju dengan kecepatan sedang. Hanya setengah perjalanan menuju kantor, Devi merasa kepala semakin berat. Egh, mual sekali, ingin kumuntahkan asam lambungnya ini. Kedua bola matanya terasa panas, keringat dingin mengalir deras membasahi wajah dan tubuh, kemeja putih yang dikenakannya telah dipenuhi pola keringat. Dengan sisa kekuatan yang ada, Devi memberi perintah pada otaknya agar tulang dan seluruh sendi tetap menyangga tubuh yang mulai lemah. Tuhan, semoga ini hanya sekadar intermezzo pagi. Memasuki kawasan perkantoran di wilayah Jakarta Selatan, tubuh Devi tak lagi kaku, hatinya menjerit riang. Seolah terlihat dewa penolong datang bersama cahaya yang akan membawanya keluar dari kegelapan. Laju motor sudah berkurang, berhenti tepat di halaman rukan tiga lantai, Devi menyewanya sekitar dua tahun yang lalu. Dikembalikannya helm hijau sambil menjulurkan uang berwarna merah, satu lembar seratus ribuan. "Sebentar kembaliannya ya, Mbak," kata driver ojek, membukanya tas ransel yang sejak tadi disampirkan di dadanya, beradu dengan punggung motor yang menonjol. "AAKH! APA ITU?" pekik Devi ketakutan, sebuah wig berwarna hijau menyembul keluar dari tas ransel milik si driver. "Oh, ini rambut badut, Mbak. Saya badut pesta juga. Sebentar ya, Mbak, dompet saya di bagian bawah." "Ambil saja kembaliannya!" Devi sudah tidak tahan lagi, dia tak mau menunggu lebih lama menyiksa dirinya sendiri. Tadi kucing, sekarang badut! Devi segera berlari menuju ruangannya, hampir saja menabrak Agus, staf kebersihan yang sudah menjadi karyawannya sejak kantor ini berdiri. "Pagi Bu Devi. Ibu kok pucat, sakit ya?" tanya Agus, tangannya masih memegang gagang pembersih kaca. Devi menggeleng dan tersenyum lemah. "Tolong bawakan teh hangat, Gus. Oh, sama cokelat, ya!" "Siap, Bu." Fiuh! Devi menghempaskan tubuhnya di kursi hitam hidrolis besar. Mengatur intensitas napasnya perlahan, mengerahkan semua kemampuannya untuk kembali tenang. Inhale. Tahan sepuluh hitungan. Exhale. Blissful mind, I let you come to pursue my day. Ketenangan datang dengan mudah, Devi bangkit dari kursinya, meraih pemantik dan menyalakan lilin yang membakar tungku keramik kecil kacamata. Bau khas kulit menyeruak memenuhi rongga hidung, Devi menghirupnya dalam-dalam. Baginya aroma barang-barang pribadinya menjadi semacam aromatherapy yang memberikan ketenangan. "Pagi, Mbak," sapa driver ramah. Pria muda berjaket hijau dengan lambang perusahaan transportasiberbasis online, tempatnya bernaung. Orang ini masih cukup muda, mungkin awal dua puluhan. Posturnya tegap di atas motor kopling yang biasa menjadi kebanggaan para pria. Devi melirik wajahnya sesaat. Hm, lumayan ganteng. Alis tebal, tulang hidung tinggi dengan dagu lancip. Mungkin dia mahasiswa atau pekerja kantoran yang mengambil side job. Tak sadar Devi tersenyum, menertawai alam khayalnya yang selalu berkeliaran bebas. "Pagi. Ke arah Fatmawati ya, Mas." "Oke, Mbak. Mau pakai masker?" Devi mengangguk, dengan cekatan diambilnya helm dan masker dari tangan driver. Devi memaksa dirinya bergerak menaiki motor kopling, dia tidak terlalu suka jenis motor yang kata orang melambangkan kejantanan. Disambarnya smartphone berwarna putih dengan logo apel tergigit itu, lalu melakukan order kendaraan roda dua. Kondisi lalu lintas Jakarta di Senin pagi sudah pasti macet. Pernyataan itu bukan sekadar prediksi kosong, Devi tak mau ambil risiko dengan membawa Jazz merah keluaran tahun 2014 miliknya. Tak sampai lima menit menunggu, driver ojek sudah tiba di depan pagar hitam desain minimalis, membunyikan klakson motornya. Devi bergegas menyambar tas kulit warna merah hatinya, hasil perburuan melalui sosial media. Cara pemasaran yang unik, entah dengan teknik marketing apa, Devi kurang mengerti. Yang jelas mampu membuat sejumlah wanita rela memperebutkan tas dengan harga yang tidak murah. Mungkin hypnoselling. Ah, entahlah!

Tags:
Keyword:

Untuk membaca, silahkan unduh aplikasi di bawah ini:

Unduh untuk perangkat lain:

playstore windows appstore macos

Ulasan Pembaca

0.0 /5
5
(0)
4
(0)
3
(0)
2
(0)
1
(0)

Ulasan (0)

Urutkan
no-review

Belum Ada Ulasan

Jadilah yang pertama memberikan ulasan!

Tulis Ulasan

Orang Lain Juga Membaca Buku Ini

Buku Lainnya dari Penerbit Skylar

Selengkapnya

Buku Lainnya dari Kategori Novel

Selengkapnya

Buku Lainnya dari Sub Kategori Novel

Selengkapnya

Buku Terbaru

Buku Terpopuler

Selengkapnya
Erase

Erase
Flash Sale

Lia Soeparno

Preview
Hubungi Kami
cara-membaca-buku