Perjalanan waktu sungguhlah tidak pernah terlalu lambat atau pun terlalu cepat. Hanya alunan perasaan senandungkan lirik tentang sulit, pahit dan kerasnya perjalanan hidup yang harus dilalui membuat laju roda sang waktu terasa demikian lambat bergulir. Dan hanya nada-nada lirih dari sebuah perasaan bersyukur akan persahabatan yang terukir antara Ayudyah dan Kantini.
### Dini hari menyapa dalam keheningan, menyisakan aroma malam yang masih terasa di udara. Luh Kantini, seorang gadis kecil, terbangun dari tidurnya oleh angin dingin yang berbisik di telinganya. Sahabatnya, Ayudyah, sudah terbiasa bangun sejak dini untuk memenuhi tugas menampung air dari sumur. Sementara Luh masih terdamping dalam mimpi, Ayudyah sudah siap untuk bergerak menuju sumur. Aktivitas pagi mereka berdua berlanjut dengan ritual mengambil air dari sumur, lalu menyebarkannya ke berbagai tempat di rumah Ayudyah, termasuk kamar mandi, dapur, dan kandang babi. Kehangatannya bertambah seiring dengan aktivitas, dan akhirnya, tower air pun terisi penuh. Setelah istirahat singkat di anak tangga tower air, keduanya kembali pulang untuk mandi. Matahari mulai menyinari langit, menggantikan hembusan angin dingin yang sebelumnya menyelimuti perkebunan. Mereka berlari kecil, berlagak ceria, menghembuskan nada nada lagu anak-anak yang manis, seiring mereka menyusuri gang tanah yang berumput menuju rumah Luh. Rumah Luh, yang lebih tepat disebut gubuk, menjadi tujuan akhir. Ibu Nyoman Widiani, sahabat Ayudyah, memanggil Luh untuk sarapan sebelum pergi ke sekolah. Meski tidak terbiasa makan sepagi ini, Luh tetap mengucapkan terima kasih atas makanan yang disediakan. Dengan semangat yang terpancar dari dua lembar uang kertas yang diberikan Ibu, Luh berlari secepat mungkin ke sekolah, memulai hari dengan energi baru.
Unduh untuk perangkat lain: