Novel ini dibangun dengan formula yang tidak biasa. Alurnya maju-mundur, acak, tetapi semuanya berhasil disambungkan dengan satu benang merah. Novel ini hanya berkisah mengenai kejadian dalam satu hari. Setiap bab disusun berdasarkan pukul kejadian tersebut berlangsung.
### --- Di tengah kekacauan malam, Rusdi terperangkap dalam situasi yang menegangkan di kantor polisi. Dengan kening berkerut dan pikiran yang berantakan, ia tidak mampu menebak apa yang ada di kantong plastik yang diletakkan di hadapannya. Isi kantong tersebut pastilah lembek, sebab tidak menghasilkan suara keras ketika diletakkan di meja. Rusdi ragu-ragu menjawab, "Tahi, barangkali?" jawaban yang segera ditegur dengan keras oleh Anwar Rosadi, seorang petugas polisi yang bersangkutan. Anwar Rosadi memberikan tempeleng pada Rusdi dan memaksa ia untuk menebak isi kantong plastik tersebut. Tebakan pertama Rusdi, "Tahi," disebut salah, dan ia harus menebak lagi. Kejutan dan cemas Rusdi memuncak ketika petugas lain masuk kantor polisi. Petugas tersebut memperkenalkan diri sebagai Anwar Rosadi, yang memaksa Rusdi untuk menebak apa yang berada di dalam kantong plastik. Rusdi, yang merasa takut dan cemas, terus berusaha menebak apa yang ada di dalam kantong plastik. Apakah itu tahi manusia? Atau mungkin ada benda yang mampu mengintimidasi? Keadaan semakin tegang ketika Anwar Rosadi bertanya, "Kau tahu apa yang berada di dalamnya?" Situasi ini menyerupai adegan film di mana seorang pesakitan yang ditangkap polisi berjuang untuk bertahan dan mengakui perbuatannya. Rusdi, merasa bahwa setiap orang bisa menjadi penjahat jika sudah masuk ke kantor polisi, tidak mengerti apa maksud sebenarnya dari perlakuan Anwar Rosadi. --- ### Catatan ini didasarkan pada bagian awal novel yang diberikan dan mencoba merangkum situasi inti serta konflik utama yang dihadapi tokoh utama, Rusdi, tanpa menyebutkan detail lebih lanjut yang mungkin tidak cocok untuk cover belakang buku.
Unduh untuk perangkat lain: