Holisoh, salah sahiji pangarang Sunda pangproduktifna, dina ieu kumpulan carpon (aya dua puluh), saperti dina dua romanna anu kungsi terbit (Katineung, 1998, jeung Kembang-kembang Petingan, 2002), nyaritakeun romantika jeung dinamika kahirupan kulawarga, hubungan kolot-anak—hususna tina sisi awewe, konflik salaki-pamajikan, konflik jeung “intrik” papada awewe hususna anu geus laki-rabi, konflik anu sakapeung rada nyosok kana hal-hal anu, sacara psikologis, leuwih jero.
Buku ini menggambarkan kisah Uyut, seorang pria yang awalnya terkenal karena ketidaktahuan dan ketidaktelitian dalam menulis. Namun, ketika ia merasa dirinya harus menulis surat, ia mengalami peningkatan perhatian dan kehati-hatian yang luar biasa. Uyut menulis surat ke sahabatnya, Kaka, dengan gaya yang sangat cermat dan teliti, berbeda dari gayanya biasanya. Surat tersebut berisi nasihat tentang pentingnya menjaga diri, disiplin dalam beribadah, dan pentingnya merawat hubungan keluarga. Kisah ini dilengkapi dengan petikan teks dari beberapa buku karangan Imam Ghazali dan Imam Syafe’i, yang menunjukkan bahwa tulisan Uyut diadaptasi dari ajaran-ajaran dalam kitab-kitab tersebut. Meskipun Uyut mengaku bahwa tulisannya adalah hasil kreativitas pribadinya, tulisan tersebut nyatanya memiliki kesamaan dengan ajaran-ajaran yang terdapat dalam buku-buku tersebut. Uyut kemudian merasa penasaran tentang bagaimana Kaka, sahabatnya yang cerdas, dapat menulis dengan baik. Ia mencoba meniru gaya penulisan Kaka, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Uyut akhirnya menyerah dan kembali menulis dengan gaya yang biasa, meskipun ia merasa bahwa tulisannya masih kurang kualitas. ini mencerminkan perjalanan Uyut dari ketidaktahuan ke kesadaran dan kemudahan dalam menulis, serta bagaimana ia mencoba mengikuti jejak Kaka dalam menulis.
Unduh untuk perangkat lain: