Penantian pita : kumpulan cerpen

Novel
Penantian pita : kumpulan cerpen

1 MB
ebook
180 Dilihat
ISBN
978-623-152-101-9
Kategori
eISBN
proses
Wishlist
Bagikan

Sinopsis

Perpisahan. Sesuatu yang membuat siapapun yang mengalaminya akan diliput kesedihan dan didera rasa kehilangan. Apalagi, perpisahan dengan orang-orang yang kita cintai dan penting dalam hidup kita. Pasti akan ada banyak kenangan yang tersisa. Itulah yang dialami Pita. Terpisah sejak kecil bersama orang yang sangat dicintainya, membuat hidup begitu berat untuknya. Perjuangan yang dilakoninya, membuatnya menjadi perempuan muda yang setegar karang, dengan kepekaan yang luar biasa. Penantian panjangnya, harapannya agar orang yang dikasihi dan disayanginya itu kembali, akankah berakhir indah atau sebaliknya? Buku ini menyajikan warna-warni kehidupan. Kehidupan yang indah tetapi bisa juga menyedihkan. Namun begitu, semuanya adalah guratan takdir yang harus dijalani dan diterima dengan keikhlasan termasuk perpisahan. Membaca buku ini, membuat siapapun akan merasa mengalami sendiri setiap bagiannya. Buku ini layak menjadi buku pilihan pembaca.

Generated by AI ✨

Deskripsi Buku

### Air Mata Mak Tiyah, kumpulan cerpen yang dipandu dengan tangan penulis Tri Sulistini, mengajak pembaca untuk merasakan pengalaman bermakna. Dalam kumpulan cerpen ini, pembaca akan disuguhi berbagai cerita yang mencerminkan kehidupan sehari-hari di kota kecil, di mana perjuangan sehari-hari dan kebersamaan keluarga menjadi pilar utama. Cerita-cerita ini menggambarkan bagaimana ibu-ibu seperti penulis sendiri, yang dengan tekun dan dedikasi tinggi menjalani kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal memastikan anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang mandiri dan sosial. Dalam salah satu cerita, penulis menggambarkan perjalanannya menuju warung Mak Tiyah, tempat biasa ia membeli bekal anak-anaknya. Warung itu menjadi simbol kehidupan yang sederhana namun penuh makna. Namun, suatu hari, Mak Tiyah menutup warungnya karena putranya meninggal. Berita ini membuat penulis merasakan kepedihan dan kerinduan kepada Mak Tiyah, yang selama ini selalu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Cerita lain menggambarkan kemandirian anak-anak penulis, Laili dan Zamzam. Laili, yang sudah kelas lima, menunjukkan tingkat kemandirian yang tinggi, bahkan sejak kelas dua sudah mandiri dalam berbagai hal. Berbeda dengan adiknya, Zamzam yang masih kelas dua, yang masih membutuhkan perhatian dan bantuan penulis. Meski begitu, keduanya menjadi ciri khas yang menggambarkan penerimaan dan pengertian antara ibu dan anak. Penasaran tentang nasib Mak Tiyah, penulis mendapatkan informasi dari Mang Rosni, tukang sapu pasar, bahwa Mak Tiyah menutup warungnya karena putranya meninggal. Berita ini memicu rasa penasaran penulis dan menjadi momen penting dalam cerita. Air Mata Mak Tiyah mengajak pembaca untuk memahami kehidupan sehari-hari yang penuh cinta, pertarungan, dan perjuangan. Dengan narasi yang lembut dan emosional, penulis menggambarkan kehidupan sederhana yang penuh makna, dan bagaimana peristiwa-peristiwa kecil dapat membentuk identitas seseorang.

Tags:
Keyword:

Untuk membaca, silahkan unduh aplikasi di bawah ini:

Unduh untuk perangkat lain:

playstore windows appstore macos

Ulasan Pembaca

0.0 /5
5
(0)
4
(0)
3
(0)
2
(0)
1
(0)

Ulasan (0)

Urutkan
no-review

Belum Ada Ulasan

Jadilah yang pertama memberikan ulasan!

Tulis Ulasan

Orang Lain Juga Membaca Buku Ini

Buku Lainnya dari Penerbit CV. Pustaka MediaGuru

Selengkapnya

Buku Lainnya dari Kategori Novel

Selengkapnya

Buku Lainnya dari Sub Kategori Novel

Selengkapnya

Buku Terbaru

Buku Terpopuler

Selengkapnya
Penantian pita : kumpulan cerpen

Penantian pita : kumpulan cerpen
Flash Sale

Tri Sulistini

Preview
Hubungi Kami
cara-membaca-buku