Pada tengah hari mereka melihat seekor burung putih kecil bertengger di sebuah dahan kayu. Burung itu berkicau sedemikian merdunya sehingga mereka berhenti untuk mendengarkannya. Habis berkicau, burung itu mengepakkan sayapnya dan terbang di hadapan mereka. Hansel dan Gretel mengikuti burung itu hingga tiba di depan sebuah rumah kecil. Burung itu bertengger di atas atap rumah, dan ketika kedua anak itu mendekatinya, mereka melihat rumah itu seluruhnya terbuat dari roti, atapnya terbuat dari kue, dan jendela-jendelanya terbuat dari gula-gula.
### Di tepi hutan rimba tinggal seorang penebang kayu miskin bersama istrinya dan dua anaknya, Hansel dan Gretel. Ketika wabah kelaparan melanda, mereka mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makanan. Salah satu solusi yang dipikirkan istrinya adalah meninggalkan anak-anaknya di hutan. Meskipun tidak ingin membiarkan anak-anaknya tersandera, penebang kayu akhirnya merasa terpaksa menyetujui rencana tersebut. Dalam perjalanan ke hutan, Hansel dan Gretel berhasil menemukan jalan pulang dengan membantu bintang dan bulan menjadi petunjuk. Namun, ketika mereka pulang, mereka mendengar percakapan orang tuanya yang merencanakan untuk meninggalkan mereka di hutan lagi. Untuk mengelabui ibu tirinya, Hansel mulai melemparkan kerikil di sepanjang jalan. Ketika kembali, ibu tirinya tidak bisa membuka pintu rumah. Mereka akhirnya berhasil pulang dan disambut dengan kegembiraan sang ayah. Namun, tak lama kemudian, kelaparan kembali melanda dan rencana yang tidak menyenangkan itu kembali terjadi. Hansel dan Gretel harus kembali mengumpulkan kerikil di hutan, kali ini dengan bekal roti yang lebih kecil. Dengan kecerdasan dan keberuntungan, mereka berhasil keluar dari hutan dan kembali ke rumah. Buku ini mengajarkan tentang keberanian, kecerdasan, dan kekuatan perjuangan dalam menghadapi tantangan hidup.
Unduh untuk perangkat lain: