Bersama Alva, Nona Klandestin menginvestigasi kasus perburuan liar, kebakaran hutan, dan banyak kasus lain yang tak kalah penting. Perjalanan demi perjalanan ia tempuh; Riau, Medan, Aceh, Natuna, dan perairan di wilayah timur dan utara. Nona juga meliput daerah terluar Indonesia, Kaltara. Nona Klandestin, tak seperti perempuan kebanyakan. Ia menganggap hidup bersama berita adalah pilihan. Hal yang membuat Giri jatuh hati, namun tembok tinggi bernama prinsip menjadikan kisahnya bertepuk sebelah tangan. Novel yang dikemas dalam layar jurnalistik investigasi ini, mengisahkan tentang kehidupan wartawan yang berbahaya. Mereka bisa saja dihilangkan atau dibunuh di hutan jati.
Buku ini berjudul "Nona Klandestin" dan ditulis oleh Rahel Mutia. Novel ini mengisahkan tentang tantangan dan perjuangan seorang jurnalis investigasi, yang juga seorang wanita, dalam mengungkap berbagai kasus yang menimpa masyarakat, terutama yang dialami oleh orang-orang miskin di negeri yang berjanji melindungi mereka. Cerita ini juga menyentuh pengalaman pribadi penulis, yang menjadi inspirasi bagi tokoh utama dalam novel ini. Tokoh utama, Nona Klandestin, adalah seorang jurnalis yang secara tersembunyi melakukan investigasi. Dia sering berada di hutan, di lautan, atau di atas awan, lebih sering bertemu masyarakat di perbatasan daripada di ruang redaksi. Wartawan investigasi ini sering menghadapi tekanan dan risiko, termasuk potensi hukuman pidana yang berat jika terlibat dalam pelanggaran hak cipta atau pelanggaran terkait. Buku ini tidak hanya menampilkan perjuangan Nona Klandestin dalam mengungkap berbagai kasus, tetapi juga menggambarkan kondisi sosial dan ekonomi yang menindas masyarakat miskin. Novel ini dipersembahkan untuk para jurnalis yang telah hilang dan terbunuh, serta kepada kekasih hati dan suami penulis, Muhammad Mursan. ini singkat menyoroti perjuangan Nona Klandestin, tantangan yang dihadapinya, dan makna yang terkandung dalam novel ini. Novel ini berfokus pada isu-isu sosial dan peran jurnalis dalam masyarakat, serta menghargai para jurnalis yang telah rela membayar mahal demi kebenaran.
Unduh untuk perangkat lain: