Wah, orang-orang di daerah Papua tersebut suka memakan ulat sagu! Mereka juga pandai membuat ukiran kayu berupa patung. Mengapa mereka menghormati patung-patung tersebut? Siapa, ya mereka? Yuk, bertualang mencari tahu mengenai suku-suku yang ada di Indonesia. Buku Suku Asmat ini adalah rangkaian dari buku seri cerita anak yang dibuat untuk membantu anak mengetahui beberapa suku yang ada di Indonesia. Melalui seri ini mereka juga akan belajar mengenai asalusul, kebiasaan, dan cara hidup dari suku-suku tersebut.
### Suku Asmat, suku yang meyakini diri sebagai keturunan dewa, dipaparkan dalam buku ini. Cerita dimulai dengan pertarungan antara Dewa Fumeripitsy dan buaya raksasa di hulu sungai Asewetsy. Setelah bertarung, Dewa Fumeripitsy ditemukan oleh seekor burung Flamingo yang menyelamatkannya. Setelah sembuh, ia membuat rumah Jew, dua patung, dan gendang yang menghasilkan tarian berkuasa magis. Patung-patung tersebut dianggap sebagai nenek moyang suku Asmat. Buku ini juga menjelaskan asal-usul suku Asmat yang berasal dari rumpun bangsa Polinesia dan memiliki kesamaan dengan suku-suku di Selandia Baru dan Papua Nugini. Suku Asmat percaya pada berbagai jenis roh, termasuk Yi-ow (arwah baik), Osbopan (arwah jahat), dan yang disimpan untuk kebutuhan harian. Mereka memakan daging, sagu, dan ulat sagu, dan juga berkebun serta mencari ikan di sungai. Suku Asmat dikenal karena ukiran kayu yang indah, seperti patung, perisai Gembes, dan alat musik Tiβa. Ukiran-ukiran tersebut dianggap sebagai penghargaan kepada roh nenek moyang. Buku ini juga memaparkan dua jenis rumah adat, rumah Jew dan Tysem, serta upacara-upacara adat yang dilakukan untuk menghormati roh. Buku ini memberikan wawasan mendalam tentang kehidupan, kepercayaan, dan budaya suku Asmat di Papua.
Unduh untuk perangkat lain: