Pada suatu hari lapisan mendung tebal menutupi Pakuan Pajajaran, ibukota kerajaan besar Pajajaran1). Ketika itu sedang berlangsung suatu pertemuan luar biasa, mengambil tempat di Balai Pertemuan2) kraton. Tempat yang biasa dipergunakan untuk pertemuan-pertemuan kenegaraan maupun penerimaan secara resmi tamu-tamu negara oleh Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Balai Pustaka
### Hari itu, di Balai Pertemuan Bale Pasewakan di Pakuan Pajajaran, ibukota kerajaan besar Pajajaran, sedang berlangsung suatu pertemuan luar biasa. Seorang perwira pemberani bernama Tumenggung Jagabaya duduk bersila bersama para pendeta istana dan pejabat kepercayaan Raja Siliwangi. Pertemuan yang sangat terbatas ini memancarkan suasana yang suram, ditambah dengan lapisan mendung tebal yang menghijaukan langit. Prabu Siliwangi, duduk paling depan, tampak berduka dan rindu saat menanyakan tentang kedua putranya, Pangeran Walangsungsang dan Rara Santang, yang telah pergi meninggalkan istana selama empat puluh tahun setelah kepergian ibunda kandung mereka. Menyadari bahwa ini bukan urusan pemerintahan atau rakyat, Prabu Siliwangi menjelaskan bahwa pertemuan tersebut hanya untuk menyelesaikan masalah keluarganya. Pertemuan penting itu juga mengundang Patih Argatala dan Mantri Jero Ragageni, pejabat pemerintahan tertinggi yang dekat dengan Prabu Siliwangi. Dalam suasana yang serius, masing-masing pejabat menyampaikan laku sembah mereka kepada Prabu, menunjukkan kehormatan dan kepercayaan yang tinggi. Pertemuan tersebut mengundang pertanyaan dan teka-teki besar bagi para penghadap. Namun, apa yang sebenarnya terjadi di balik pertemuan itu tetap menjadi misteri, sementara Prabu Siliwangi hanya menegaskan bahwa ini adalah urusan pribadinya. buku ini mencerminkan kehidupan kerajaan Pajajaran pada masa itu, di mana pertemuan-pertemuan penting sering kali menyembunyikan hal-hal yang lebih besar dan lebih misterius dibaliknya.
Unduh untuk perangkat lain: